Vietnam Panggil Tiga Naturalisasi Debutan, Ancaman Baru bagi Indonesia di Piala AFF 2026
Baca dalam 60 detik
- Timnas Vietnam memanggil tiga pemain naturalisasi anyar—Le Giang Patrik, Nguyen Tai Loc, dan Ngo Dang Khoa—untuk pemusatan latihan kedua tahun ini, menandai strategi memperkuat skuad menjelang Piala AFF 2026.
- Ketiganya diyakini membawa dimensi baru berkat latar belakang pelatihan beragam dan fisik prima, meningkatkan persaingan internal dan kualitas tim secara keseluruhan.
- Vietnam, juara bertahan Grup A, akan menjadi lawan berat Indonesia di fase grup; persiapan matang termasuk training camp di Korea Selatan dan uji coba melawan Myanmar.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5056854/original/023892900_1734564685-KIM.jpg)
Timnas Vietnam resmi mengumumkan 28 pemain yang dipanggil untuk pemusatan latihan kedua tahun ini, dengan tiga nama naturalisasi baru yang siap menjalani debut—sebuah sinyal bahwa juara bertahan Piala AFF 2026 itu tidak ingin kehilangan tahta di hadapan rival sekawasan, termasuk Indonesia.
Pelatih Kim Sang-sik memadukan pemain senior, talenta muda, dan deretan naturalisasi dalam skuad yang akan menjalani persiapan intensif. Sorotan utama tertuju pada Le Giang Patrik, Nguyen Tai Loc (eks Geovane Magno asal Brasil), dan Ngo Dang Khoa—ketiganya baru saja memperoleh kewarganegaraan Vietnam. Media lokal Soha menyebut kehadiran mereka sebagai "dimensi baru" yang memberi opsi taktik lebih luas, terutama dari segi fisik dan pola pikir sepak bola modern.
Vietnam tergabung di Grup A bersama Indonesia, Singapura, Kamboja, dan Timor Leste. Dengan status juara bertahan, langkah mereka memperkuat lini dengan pemain naturalisasi menjadi peringatan dini bagi skuad Garuda. Apalagi, Do Hoang Hen—yang sudah debut pada Maret lalu—juga kembali dipanggil, menambah kedalaman skuad The Golden Star Warriors.
Kim Sang-sik tidak melupakan pilar-pilar senior seperti Nguyen Quang Hai, Nguyen Xuan Son, Dang Van Lam, dan Do Duy Manh. Kombinasi pengalaman dan energi muda—seperti Nguyen Dinh Bac, Nguyen Ngoc My, dan Dinh Quang Kiet—menunjukkan komitmen regenerasi tanpa mengorbankan stabilitas. "Penambahan pemain dengan latar belakang pelatihan yang beragam... meningkatkan kualitas skuad secara keseluruhan," tulis Soha.
Bagi Indonesia, ancaman ini tidak bisa dianggap remeh. Vietnam telah membuktikan diri sebagai kekuatan dominan di Asia Tenggara, dan langkah mereka mengakselerasi naturalisasi menunjukkan ambisi jangka panjang. Apalagi, jadwal persiapan Vietnam tergolong padat: berkumpul di Hanoi pada 22 Juni, terbang ke Korea Selatan untuk tiga laga uji coba internasional, lalu kembali ke kandang untuk menghadapi Myanmar pada 18 Juli. Semua itu dirancang untuk mematangkan skuad sebelum turnamen.
Pertanyaannya, akankah Indonesia mampu menyusun strategi yang tepat untuk meredam agresivitas Vietnam? Atau justru naturalisasi massal ini akan menjadi bumerang bagi The Golden Star Warriors jika gagal beradaptasi? Hanya waktu yang akan menjawab, namun satu hal pasti: persaingan di Grup A akan berlangsung sengit.



