Remedy Siapkan Kampanye Pemasaran Terbesar demi Control Resonant di Tengah Persaingan Sengit
Baca dalam 60 detik
- Control Resonant akan dirilis 24 September 2026 bersamaan dengan sejumlah game besar, memicu persaingan ketat.
- Remedy mengalokasikan anggaran pemasaran terbesar dalam sejarah perusahaan untuk mendukung peluncuran tersebut.
- Game ini dibanderol €59,99, lebih murah Rp170 ribu dari harga AAA pada umumnya, sebagai strategi penetrasi pasar.

Remedy Entertainment, pengembang game asal Finlandia, memutuskan untuk meluncurkan Control Resonant pada 24 September 2026—sebuah tanggal yang padat dengan rilis game besar. Di hari yang sama, setidaknya empat judul ternama seperti Minecraft Dungeons 2, Silent Hill: Townfall, Marvel’s Wolverine, dan Onimusha: Way of the Sword juga akan hadir. Persaingan di pekan terakhir September itu diprediksi menjadi salah satu yang terpanas dalam industri game tahun ini.
Menghadapi tekanan tersebut, Remedy tidak setengah-setengah. Thomas Puha, direktur komunikasi Remedy, mengungkapkan bahwa Control Resonant mendapat alokasi dana pemasaran terbesar yang pernah dikeluarkan perusahaan. "Kami menetapkan tanggal rilis berdasarkan apa yang terbaik untuk game. Yang terpenting adalah menghadirkan Control Resonant dalam kualitas terbaik, karena itu adalah hal yang benar, daripada merilis game yang belum sempurna," ujar Puha dalam sebuah pernyataan.
Keputusan untuk memajang Control Resonant di tiga ajang besar—State of Play, Summer Game Fest, dan PC Gaming Show—menjadi bukti keseriusan Remedy. Biasanya, studio hanya menampilkan game di satu atau dua acara. Namun kali ini, mereka ingin memastikan gamer di seluruh dunia mengenal judul ini sebelum hari peluncuran.
Yang menarik, Remedy membanderol Control Resonant sebesar €59,99—€10 lebih rendah dari harga standar game AAA yang biasanya €69,99. Langkah ini dinilai sebagai strategi untuk menarik lebih banyak pembeli di tengah rivalitas ketat. "Kami menetapkan harga yang sangat kompetitif. Masih banyak yang akan datang dalam beberapa hari ke depan setelah pengumuman tanggal rilis ini," tambah Puha.
Bagi pasar Indonesia, persaingan ini juga berdampak langsung. Harga game di toko digital seperti Steam dan Epic Games Store biasanya mengikuti patokan regional. Dengan harga global yang lebih rendah, ada kemungkinan harga regional di Indonesia juga ikut turun. Namun, daya beli konsumen Tanah Air tetap menjadi tantangan, mengingat game AAA lain seperti Marvel’s Wolverine belum diumumkan harganya secara resmi.
Remedy tampaknya mengandalkan kualitas sebagai pembeda utama. Puha menekankan bahwa game yang tidak sempurna saat rilis sulit pulih. "Jika game Anda tidak bagus saat diluncurkan, pemain tidak akan menyukainya, dan sulit untuk bangkit dari itu," tegasnya. Pernyataan ini mengingatkan pada kasus Cyberpunk 2077 yang dirilis dalam kondisi bermasalah dan butuh waktu lama untuk memperbaiki reputasi.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah strategi pemasaran agresif dan harga lebih murah cukup untuk membuat Control Resonant menonjol di tengah banjir rilis September 2026. Atau justru persaingan yang terlalu ketat akan membuat game ini tenggelam meski kualitasnya prima? Jawabannya baru akan terlihat setelah game tersebut benar-benar berada di tangan pemain.



