Raducanu Kembali Gagal Juara: Cedera dan Mental Jadi Biang Kekalahan di Queen's
Baca dalam 60 detik
- Emma Raducanu kalah 6-0, 7-6(6) dari Donna Vekic di final Queen's, gagal memutus puasa gelar sejak US Open 2021.
- Cedera kaki kiri yang memburuk setelah dua pertandingan di hari Sabtu membuat Raducanu kesulitan bergerak dan kehilangan set pertama dalam 30 menit.
- Kekalahan ini tetap mendorong Raducanu ke ambang 30 besar dunia, membuka peluang menjadi unggulan di Wimbledon.

Emma Raducanu harus mengakui keunggulan Donna Vekic di final Queen's Club Championships, Minggu (16/6), setelah tampil pincang akibat cedera kaki kiri yang kambuh. Petenis Inggris berusia 23 tahun itu kalah telak 6-0, 7-6(6) dari pemain Kroasia yang lolos sebagai lucky loser, sekaligus memperpanjang masa paceklik gelar sejak kejutan di US Open 2021.
Sejak awal pertandingan di Andy Murray Arena, Raducanu tampak tidak bisa bergerak leluasa. Perban di paha kirinya—sisa dari slip di baseline saat perempat final—menjadi pengingat bahwa kondisi fisiknya tidak prima. Vekic, yang kalah di kualifikasi namun masuk draw setelah Marta Kostyuk mundur, langsung memanfaatkan kelemahan lawan. Dalam waktu kurang dari 30 menit, Vekic menutup set pertama dengan skor 6-0 tanpa ampun.
Raducanu sempat bangkit di set kedua. Ia meminta dukungan lebih keras dari tim dan penonton, lalu mematahkan servis Vekic dua kali untuk unggul 5-2. Namun, saat hendak menyamakan kedudukan, mental dan fisiknya kembali goyah. Ia gagal mengonversi dua set point pada 5-4, lalu kehilangan servis dua kali berturut-turut. Vekic, yang lebih tenang, memaksa tie-break dan akhirnya menang 8-6 setelah Raducanu membuang lima championship point lawan.
Bagi Raducanu, pekan di Queen's tetap layak diapresiasi. Ia harus menjalani dua pertandingan pada hari Sabtu karena hujan, termasuk kemenangan atas Iva Jovic di semifinal. Namun, akumulasi beban fisik dan cedera menjadi bumerang. "Ini pekan yang luar biasa bagi saya untuk mencapai final," ujar Raducanu seusai laga. "Donna bermain sangat baik dari awal hingga akhir."
Kekalahan ini menyoroti kerapuhan Raducanu saat berada di panggung final. Dari tiga final yang ia mainkan, hanya satu yang dimenangkan—dan itu terjadi empat tahun lalu. Tekanan mental, terutama saat harus menutup set atau pertandingan, masih menjadi pekerjaan rumah besar. Vekic, yang peringkatnya lebih rendah (76 dunia), justru tampil lebih dewasa dalam mengelola momen kritis.
Bagi penggemar tenis Indonesia, performa Raducanu di Queen's menjadi pengingat bahwa regenerasi petenis top dunia tidak selalu mulus. Cedera dan tekanan mental kerap menghambat talenta muda. Namun, dengan poin yang diraih, Raducanu dipastikan masuk unggulan di Wimbledon—sebuah modal penting untuk melangkah lebih jauh di Grand Slam favoritnya.
Pertanyaan selanjutnya: mampukah Raducanu mengatasi masalah fisik dan mentalnya sebelum Wimbledon bergulir pada awal Juli? Atau akankah cerita serupa terulang di All England Club?



