Pengeroyokan Maut di Pasar Grogol: Korban Didorong dari Lantai Dua, Tiga Pelaku Ditangkap
Baca dalam 60 detik
- Polisi menangkap tiga dari delapan pelaku pengeroyokan yang menyebabkan DM tewas di Pasar Grogol, Jakarta Barat, pada Mei 2026.
- Korban sengaja didorong dari lantai dua tempat hiburan Westown setelah cekcok akibat pengaruh minuman keras.
- Lima pelaku lain masih buron dan diduga mengancam saksi; polisi mengimbau mereka segera menyerahkan diri.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/8257717/original/006331600_1781252888-Screenshot_2026-06-12_152337.jpg)
Polisi akhirnya mengungkap tabir kelam di balik tewasnya seorang pria berinisial DM di tempat hiburan Westown, Pasar Grogol, Jakarta Barat, satu bulan setelah peristiwa nahas itu terjadi. Dari hasil penyelidikan, korban diketahui sengaja didorong dari lantai dua oleh para pelaku setelah terlibat cekcok dalam kondisi mabuk. Tiga dari delapan pelaku telah diamankan, sementara sisanya masih dalam pengejaran.
Kanit Reskrim Polsek Grogol Petamburan AKP Alexander Tengbunan mengonfirmasi bahwa ketiga tersangka yang ditangkap berinisial NA, AE, dan MLS. Dua di antaranya masih di bawah umur. Mereka ditangkap di Jakarta Barat dan Rangkasbitung, Banten; satu orang bahkan diserahkan oleh keluarganya sendiri. "Korban dan pelaku tidak saling kenal," ujar Alexander kepada wartawan, Jumat (12/6/2026).
Peristiwa berdarah itu bermula pada Minggu, 10 Mei 2026, sekitar pukul 02.00 WIB. DM dan kelompok pelaku tengah berpesta minuman keras di Westown. Dalam keadaan mabuk, perselisihan paham pecah dan berujung pada keributan. Saat rombongan turun melalui tangga, korban memiting salah seorang teman pelaku. Aksi itu memicu amarah rombongan pelaku, yang kemudian mengeroyok DM sebagai balas dendam.
Bukan sekadar pengeroyokan biasa, penyelidikan mengungkap bahwa korban sengaja dijatuhkan dari lantai dua. "Menurut keterangan pelaku yang sekaligus menjadi saksi, korban memang sengaja dijatuhkan oleh pelaku," tegas Alexander. Akibat dorongan tersebut, DM jatuh dan mengalami luka parah. Ia sempat dilarikan ke rumah sakit dalam kondisi koma, namun nyawanya tidak tertolong setelah menjalani perawatan intensif selama empat hari.
Kasus ini menyoroti maraknya kekerasan di tempat hiburan malam Jakarta yang kerap dipicu konsumsi alkohol. Pengamat kriminologi dari Universitas Indonesia menilai bahwa lemahnya pengawasan dan penegakan hukum di lokasi serupa menjadi faktor utama. "Peristiwa ini menunjukkan pentingnya regulasi ketat terhadap jam operasional dan penjualan minuman keras di tempat hiburan," ujarnya.
Polisi kini masih memburu lima pelaku lainnya yang telah teridentifikasi, termasuk pelaku utama yang mendorong korban. Informasi yang dihimpun, para buron sempat mengancam rekannya agar tidak membocorkan keberadaan mereka. "Lima pelaku lainnya sudah diidentifikasi, termasuk pelaku utama yang mendorong korban hingga jatuh dari lantai dua. Saat ini kami masih mencari pelaku tersebut," kata Alexander. Ia mengimbau para pelaku untuk segera menyerahkan diri sebelum tindakan tegas diambil.
Bagi masyarakat Jakarta, kasus ini menjadi pengingat akan bahaya laten kekerasan di ruang publik. Akankah aparat mampu menangkap semua pelaku dan memberikan efek jera? Atau akankah tragedi serupa kembali terulang di tempat hiburan lain? Jawabannya masih bergantung pada konsistensi penegakan hukum dan kesadaran bersama.


