Setahun Tragedi Air India: Kotak Hitam Buka Tabir Dugaan Sabotase Pilot
Baca dalam 60 detik
- 260 orang tewas dalam kecelakaan Boeing 787 Dreamliner Air India rute Ahmedabad-London pada Juni 2025.
- Penyelidikan AAIB mengonfirmasi sakelar bahan bakar bergerak ke posisi 'cut-off' sesaat setelah lepas landas, menyebabkan mesin mati total.
- Rekaman kokpit memicu spekulasi bahwa kapten pilot sengaja memotong aliran bahan bakar, namun asosiasi pilot India membantah keras tuduhan tersebut.

Setahun setelah kecelakaan pesawat Air India yang menewaskan 260 orang, Badan Investigasi Kecelakaan Penerbangan India (AAIB) belum juga merampungkan laporan akhir. Dalam pernyataan resmi pada peringatan pertama tragedi itu, AAIB hanya menyebutkan bahwa "kemajuan signifikan" telah dicapai dalam pemeriksaan sistem pesawat, data perekam penerbangan, komponen mesin, serta catatan perawatan dan operasional. Namun, tidak ada batas waktu yang diberikan kapan investigasi akan selesai.
Kecelakaan yang terjadi pada 12 Juni 2025 itu melibatkan Boeing 787 Dreamliner yang baru beberapa detik lepas landas dari Ahmedabad menuju London. Laporan awal yang dirilis sebulan setelah kejadian mengungkapkan bahwa sakelar kontrol bahan bakar tiba-tiba berpindah ke posisi "cut-off", menyebabkan mesin kehilangan daya total. Rekaman audio kokpit menangkap percakapan antara dua pilot: salah satu bertanya mengapa yang lain melakukan hal itu, namun dijawab bahwa ia tidak melakukannya. Investigasi tidak mengidentifikasi pilot mana yang mengucapkan pernyataan tersebut.
Spekulasi liar segera merebak. Media internasional seperti The Wall Street Journal dan Reuters, mengutip sumber anonim, melaporkan bahwa perhatian penyelidikan mulai mengarah pada kapten pilot, Kapten Sabharwal. Menurut Reuters, rekaman kokpit mendukung pandangan bahwa kaptenlah yang memotong aliran bahan bakar. Laporan ini memicu reaksi keras dari asosiasi pilot di India, yang mengecam pemberitaan dan menolak keras tuduhan bahwa pilot senior tersebut menyebabkan kecelakaan.
Kontroversi ini mengingatkan pada kasus kecelakaan pesawat sebelumnya yang melibatkan dugaan tindakan sengaja pilot, seperti kecelakaan Germanwings pada 2015 di mana co-pilot sengaja menjatuhkan pesawat. Namun, asosiasi pilot India menegaskan bahwa belum ada bukti konklusif yang mendukung skenario tersebut. Mereka mendesak AAIB untuk merilis laporan akhir secara transparan guna mengakhiri spekulasi yang merugikan profesi pilot.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat pentingnya pengawasan keselamatan penerbangan. Dengan pertumbuhan lalu lintas udara yang pesat di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, insiden serupa menyoroti perlunya audit keselamatan yang ketat, terutama terkait prosedur operasional dan faktor manusia di kokpit. Regulator penerbangan Indonesia, seperti Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, perlu memastikan bahwa maskapai nasional mematuhi standar internasional dalam pelatihan pilot dan pemeliharaan pesawat.
Hingga saat ini, AAIB belum memberikan tanggal pasti penyelesaian investigasi. Publik dan keluarga korban masih menunggu kejelasan. Pertanyaan mendasar tetap mengemuka: apakah kecelakaan ini murni kegagalan teknis, atau ada unsur kesengajaan? Jawabannya akan menentukan arah kebijakan keselamatan penerbangan global, termasuk di Indonesia.
