El Nino Godzilla Mengancam Kemandirian Energi Mikrohidro Warga Semende
Baca dalam 60 detik
- Musim kemarau ekstrem El Nino Godzilla 2026 menurunkan debit air sungai di Semende, mengancam operasional PLTMH buatan warga yang telah berjalan puluhan tahun.
- Konflik potensial muncul antara kebutuhan air untuk PLTP berskala nasional dan keberlangsungan PLTMH serta pertanian lokal, meski secara teknis sistem airnya terpisah.
- Kerusakan hutan di hulu menjadi ancaman terbesar bagi kedua jenis energi bersih, sehingga pelestarian hutan menjadi kepentingan bersama masyarakat dan pengembang.

Fenomena El Nino Godzilla yang diprediksi melanda Indonesia pada 2026 tak hanya memicu kekeringan berkepanjangan, tetapi juga mengancam keberlangsungan pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) yang menjadi tulang punggung elektrifikasi di pedalaman Semende, Sumatera Selatan. Warga yang selama puluhan tahun mengelola sendiri energi bersih dari air kini dihadapkan pada kenyataan pahit: volume air sungai terus menyusut, membuat turbin sulit berputar dan listrik yang dihasilkan tak lagi mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Di kawasan Ataran Datas Pagi, Desa Tanjung Tiga, setidaknya tujuh PLTMH—yang disebut warga sebagai "listrik turbin"—menjadi satu-satunya sumber penerangan, pengisi daya telepon, dan radio bagi puluhan dangau (rumah pondok) di perkebunan kopi dan palawija. Ikral Sawabi (30), salah satu warga, mengungkapkan kekhawatirannya bahwa musim kemarau tahun ini yang disertai El Nino Godzilla akan memperparah kondisi yang sudah kritis. "Volume air kian berkurang, apalagi menghadapi kemarau yang lebih panas dan panjang," ujarnya awal Mei lalu.
PLTMH di Semende bukan proyek pemerintah, melainkan inisiatif murni masyarakat yang belajar dari internet dan memanfaatkan generator bekas kulkas. Dapawi (50), warga Desa Kota Agung, telah menggunakan listrik dari air selama sepuluh tahun, namun dalam lima tahun terakhir ia merasakan penurunan drastis. "Saat kemarau, listrik hanya cukup untuk lampu," keluhnya. Meski kapasitas beberapa PLTMH mencapai 12 ribu watt berkat dukungan LSM dan perguruan tinggi, ancaman perubahan iklim dan kerusakan hutan membuat masa depannya tak menentu.
Kekhawatiran warga tak hanya pada cuaca ekstrem, tetapi juga pada kehadiran Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) di lanskap Semende. Boni Bangun, Direktur Perkumpulan Sumsel Bersih, menegaskan bahwa meski PLTP dianggap energi bersih, operasionalnya—terutama sistem pendingin dan pengeboran sumur baru—tetap membutuhkan air permukaan dalam volume besar. "Ketika aktivitas ini berjalan bersamaan dengan El Nino Godzilla, dampaknya saling memperparah," katanya. Namun, Surya Darma, Ketua ICRES, memberikan perspektif berbeda: air yang digunakan PLTP berasal dari sistem tertutup di kedalaman 1.500–3.000 meter, terpisah dari air permukaan yang menghidupi PLTMH dan sawah. "Kekhawatiran rebutan air mungkin berlebihan, asalkan pengeboran dilakukan dengan mitigasi yang tepat," jelasnya.
Ancaman terbesar bagi PLTMH, menurut Surya, justru kerusakan hutan di hulu. Hutan yang gundul mengurangi kemampuan tanah menyimpan air, menyebabkan banjir saat hujan dan kekeringan saat kemarau. Ironisnya, PLTP juga bergantung pada hutan yang lestari untuk mengisi ulang cadangan panas bumi. "Jika hutan Semende rusak, investasi PLTP triliunan rupiah ikut hancur. Masyarakat dan pengembang sebenarnya berada di perahu yang sama," tegas Surya. Ia mendesak pemerintah provinsi dan pengembang segera mengambil langkah konkret, seperti memastikan pengeboran baru tidak mengandalkan air sungai lokal, membentuk tim independen untuk memantau aliran lingkungan (environmental flow), serta mengalokasikan dana CSR untuk reboisasi masif di zona tangkapan air.
Kisah Semende menjadi cermin dilema transisi energi di Indonesia: antara mendorong energi bersih skala nasional dan menjaga kemandirian energi lokal. PLTP memang mengurangi ketergantungan pada batu bara, namun tanpa pengelolaan air dan hutan yang hati-hati, ia bisa menggerus sumber kehidupan warga yang telah lebih dulu menerapkan energi hijau. Pertanyaan yang tersisa: mampukah pemerintah dan pengembang menjamin bahwa proyek panas bumi tidak menjadi bumerang bagi masyarakat adat yang menjaga alam selama berabad-abad?
