Anak Indonesia Terpapar Gawai 7,5 Jam Sehari, Kemkomdigi Luncurkan Program Fisik Alternatif
Baca dalam 60 detik
- Kemkomdigi mencatat anak-anak di Indonesia menghabiskan rata-rata 7,5 jam per hari di depan layar, mendorong lahirnya program Tunas Jakarta sebagai upaya menyeimbangkan aktivitas digital dan fisik.
- Program yang digelar di Taman Bendera Pusaka, Jakarta Selatan, ini merupakan implementasi dari PP Nomor 17 Tahun 2025 yang membatasi akses anak ke platform digital berisiko.
- Kemkomdigi membuka peluang kerja sama dengan pemerintah daerah lain untuk mereplikasi program serupa, menandai langkah awal mengatasi kecanduan gawai di kalangan anak.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) meluncurkan program Tunggu Anak Siap (Tunas) Jakarta sebagai jawaban atas tingginya paparan layar pada anak-anak yang mencapai 7,5 jam per hari, sekaligus mendorong aktivitas fisik sebagai alternatif bermain gawai.
Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kemkomdigi, Bonifasius Wahyu Pudjianto, mengungkapkan bahwa anak-anak saat ini tumbuh di dua dunia—nyata dan digital—namun kecenderungan menghabiskan waktu di ruang digital semakin dominan. “Kita terus dukung kembalinya mereka berinteraksi dalam kondisi fisik. Ini penting, bagaimana anak-anak bisa belajar bermain, berteman, dan mengenal dunia fisik,” ujarnya saat membuka acara di Jakarta Selatan, Jumat (12/6/2026).
Program Tunas Jakarta digelar di Taman Bendera Pusaka selama dua hari, menghadirkan berbagai kegiatan seperti permainan tradisional dan olahraga. Acara ini melibatkan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, komunitas, operator seluler, hingga platform digital. Langkah ini menjadi bagian dari implementasi Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas), yang membatasi akses anak terhadap platform digital berisiko.
Staf Khusus Menteri Komunikasi dan Digital Bidang Kepemudaan dan Start Up, Alfreno Kautsar Ramadhan, menekankan bahwa Tunas Jakarta bukan upaya menjauhkan anak dari teknologi. “Kita ingin memberikan alternatif. Selama ini kami selalu mendorong bahwa dunia digital memiliki risiko, namun kami juga harus mendorong alternatifnya,” katanya. Ia menambahkan, kegiatan ini dirancang untuk membangun keseimbangan antara aktivitas digital dan fisik, dengan tetap mengedepankan pengawasan orang tua.
Bonifasius menegaskan bahwa prinsip “Tunggu Anak Siap” bukan berarti menghambat anak atau membuat mereka tertinggal. Sebaliknya, kebijakan ini memastikan anak-anak memasuki ruang digital saat benar-benar siap dari segi usia, emosi, dan pemahaman terhadap risiko. “Kita ingin memastikan anak-anak masuk ke ruang digital saat mereka benar-benar siap,” tegasnya.
Bagi orang tua di Indonesia, program ini menjadi angin segar di tengah kekhawatiran akan dampak negatif gawai terhadap perkembangan anak. Alfreno menyebut bahwa Tunas Jakarta lahir dari keluhan para orang tua yang kesulitan mencari aktivitas alternatif setelah pembatasan akses platform digital diterapkan. “Kita ingin memberitahukan kepada publik bahwa ruang digital itu bagus, tetapi kita juga tetap membutuhkan koneksi di ruang publik dan fisik,” ujarnya.
Ke depan, Kemkomdigi berencana memperluas program ini ke daerah lain. “Hari ini merupakan yang pertama dan berlangsung selama dua hari. Selebihnya kami masih meraba pemprov ataupun pemda mana yang memang ingin berkolaborasi,” tutup Alfreno. Pertanyaannya, mampukah inisiatif ini diadopsi secara nasional untuk menekan angka kecanduan gawai pada anak?



