Danantara Pangkas 12-14 Anak Usaha Telkom, Target Tersisa 19 Perusahaan
Baca dalam 60 detik
- COO Danantara Dony Oskaria mengumumkan rencana penutupan 12-14 anak usaha Telkom sebagai bagian dari streamlining grup yang saat ini memiliki 67 entitas.
- Sebanyak 48 anak usaha akan dikonsolidasi melalui merger atau likuidasi, dengan target akhir hanya 19 perusahaan yang tersisa.
- Transformasi ini diklaim tidak akan memicu PHK massal karena karyawan akan dialihkan ke entitas hasil merger, sejalan dengan upaya membentuk holding digital yang lebih ramping.

Kepala Badan Pengaturan Badan Usaha Milik Negara (BP BUMN) yang juga menjabat sebagai Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, memastikan langkah perampingan besar-besaran di grup PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk akan segera direalisasikan. Dari total 67 anak usaha yang dimiliki saat ini, sebanyak 12 hingga 14 perusahaan dipastikan akan ditutup, sementara puluhan lainnya akan digabungkan atau dilikuidasi.
Dalam pernyataannya usai rapat dengan Komisi VI DPR RI di Jakarta, Senin (8/6/2026), Dony mengungkapkan bahwa target akhir dari restrukturisasi ini adalah menyisakan hanya 19 perusahaan dalam grup Telkom. "Saya lupa 12 atau 14 (perusahaan yang ditutup)," ujarnya, sembari menegaskan bahwa proses konsolidasi akan mencakup 48 anak usaha melalui skema merger maupun likuidasi.
Langkah ini merupakan bagian dari transformasi besar yang dirancang untuk membangun struktur bisnis yang lebih ramping, fokus, dan kompetitif. Menurut Dony, perusahaan-perusahaan dengan bisnis serupa akan digabungkan agar dapat beroperasi sesuai dengan core bisnis masing-masing. "Misalkan kayak fiber optic, itu nanti terkonsolidasi ada beberapa perusahaan yang jadi satu, kan size-nya jadi besar," jelasnya.
Meski langkah ini berpotensi menimbulkan kekhawatiran akan pemutusan hubungan kerja (PHK), Dony menegaskan bahwa tidak akan ada PHK massal. Karyawan dari anak usaha yang terdampak merger atau likuidasi akan dialihkan ke perusahaan hasil merger. "Kan banyaknya merger, gitu," katanya menambahkan. Pernyataan ini setidaknya meredakan kecemasan ribuan pekerja yang tergabung dalam ekosistem Telkom Group.
Sebelumnya, Dony telah menggelar pertemuan dengan Direktur Portfolio/Bisnis PT Telkom Indonesia di Wisma Danantara Indonesia untuk membahas update pelaksanaan streamlining. Dalam unggahan media sosialnya, ia menyebut langkah ini sebagai bagian dari transformasi besar Telkom untuk memperkuat perannya sebagai strategic holding digital. Manajemen Telkom juga memaparkan sejumlah langkah strategis, mulai dari merger, divestasi, likuidasi, konsolidasi bisnis, hingga pembentukan enterprise holding baru.
Beberapa agenda prioritas yang terus dipercepat antara lain konsolidasi FiberCo BUMN, pengembangan Data Center, TowerCo, InfraCo, serta penataan lisensi Telkom Group. Semua ini diarahkan untuk mendukung transformasi menuju strategic holding digital yang lebih adaptif dan berdaya saing global. Bagi investor dan pelaku pasar, langkah ini menjadi sinyal bahwa Telkom serius mengejar efisiensi dan fokus bisnis di tengah persaingan industri telekomunikasi yang kian ketat.
Ke depan, keberhasilan restrukturisasi ini akan sangat bergantung pada eksekusi di lapangan, terutama dalam hal integrasi budaya perusahaan dan sinergi operasional. Pertanyaan yang masih menggantung: apakah target 19 perusahaan benar-benar dapat dicapai tanpa mengorbankan kualitas layanan dan inovasi? Waktu yang akan menjawab.

