IHSG Terperosok 4% di Sesi I, Asing Lepas BBCA Rp328 M
Baca dalam 60 detik
- Indeks harga saham gabungan ambles hingga 4% pada sesi pertama perdagangan, menandai tekanan jual asing yang signifikan.
- Investor asing mencatat net sell Rp325,3 miliar dengan Bank Central Asia (BBCA) sebagai saham paling banyak dilepas, sementara Chandra Asri Pacific (TPIA) menjadi primadona beli.
- Aksi jual asing ini mencerminkan kekhawatiran terhadap prospek ekonomi domestik dan bisa memicu koreksi lebih dalam jika berlanjut.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) anjlok hingga 4% pada penutupan sesi pertama perdagangan Senin (8/6/2026), dipicu aksi jual besar-besaran investor asing yang melepas saham perbankan unggulan. Tekanan jual asing mencapai Rp325,3 miliar secara neto di seluruh pasar, dengan Bank Central Asia (BBCA) menjadi sasaran utama pelepasan senilai Rp328,6 miliar, mendorong harga sahamnya turun ke bawah level 5.000.
Secara rinci, data perdagangan menunjukkan nilai pembelian asing (foreign buy) tercatat Rp5,8 triliun, sementara nilai penjualan (foreign sell) mencapai Rp6,1 triliun. Selisih negatif ini mengindikasikan aksi ambil untung dan realokasi portofolio oleh investor global di tengah ketidakpastian pasar. Analis menilai pelemahan IHSG diperparah oleh sentimen eksternal, termasuk kekhawatiran perlambatan ekonomi global dan kenaikan suku bunga acuan di negara maju.
Di sisi lain, saham emiten milik konglomerat Prajogo Pangestu, Chandra Asri Pacific (TPIA), justru menjadi primadona dengan net buy asing sebesar Rp227,2 miliar. Langkah ini menandakan minat asing terhadap sektor industri kimia dan energi yang dinilai prospektif dalam jangka panjang, terlepas dari tekanan jangka pendek di pasar.
Bagi investor ritel Indonesia, aksi jual asing ini menjadi sinyal waspada. Sejarah mencatat bahwa pelepasan saham perbankan besar seperti BBCA kerap diikuti koreksi berkepanjangan. Namun, masuknya asing ke TPIA menunjukkan bahwa peluang sektor tertentu masih menarik. Direktur Riset sebuah sekuritas terkemuka menilai bahwa pergerakan ini lebih bersifat taktis dan belum tentu mencerminkan arus keluar modal jangka panjang.
Ke depan, perhatian pasar akan tertuju pada data inflasi AS dan kebijakan bank sentral global yang dapat mempengaruhi aliran modal asing ke Indonesia. Jika tekanan jual berlanjut, IHSG berpotensi menguji level support berikutnya, namun aksi beli asing di saham-saham tertentu bisa menjadi penahan laju pelemahan.



