Rupiah Tembus Rp18.180, Level Terlemah Sepanjang Masa di Tengah Tekanan Global
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus merosot hingga menyentuh Rp18.180 per dolar AS pada siang hari, mencatat rekor terlemah sepanjang sejarah.
- Cadangan devisa Indonesia turun US$1,3 miliar menjadi US$144,9 miliar pada Mei 2026, dipengaruhi pembayaran utang dan intervensi stabilisasi rupiah.
- Pelemahan rupiah terjadi meski indeks dolar AS (DXY) sedikit melemah, menunjukkan tekanan domestik dan ketidakpastian global masih dominan.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali menembus rekor terendah sepanjang masa pada perdagangan siang hari ini, Senin (8/6/2026), dengan dolar AS mendekati level psikologis Rp18.200. Berdasarkan data Refinitif, rupiah tercatat di posisi Rp18.180 per dolar AS pada pukul 13.00 WIB, melemah signifikan dibandingkan pembukaan pagi di Rp18.100.
Pergerakan rupiah sejak awal perdagangan menunjukkan tren depresiasi yang konsisten. Pada pukul 09.07 WIB, rupiah sudah melemah 0,50 persen ke Rp18.100. Dua jam berselang, mata uang Garuda terus tergerus hingga mencapai Rp18.160 pada pukul 11.00 WIB, dan akhirnya menyentuh Rp18.180 pada siang hari. Level ini menjadi yang terlemah dalam sejarah pencatatan rupiah terhadap dolar AS.
Pelemahan ini terjadi di tengah kondisi indeks dolar AS (DXY) yang justru sedikit melemah 0,07 persen ke posisi 99,998 pada pagi hari. Namun, posisi tersebut masih tergolong tinggi setelah DXY menguat tajam 0,66 persen pada akhir pekan lalu dan kembali menembus level 100. Artinya, tekanan terhadap rupiah tidak semata-mata berasal dari penguatan dolar global, melainkan juga faktor domestik yang memperburuk sentimen.
Bank Indonesia (BI) sebelumnya melaporkan cadangan devisa Indonesia turun US$1,3 miliar menjadi US$144,9 miliar pada akhir Mei 2026. Penurunan ini dipengaruhi oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI sebagai respons terhadap tingginya ketidakpastian pasar keuangan global dan permintaan valuta asing musiman dari domestik. Meski demikian, BI menilai posisi cadangan devisa saat ini masih kuat, setara dengan pembiayaan 5,6 bulan impor atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.
Bagi pelaku pasar dan investor Indonesia, pelemahan rupiah yang terus berlanjut menjadi sinyal waspada. Tekanan terhadap rupiah diperkirakan masih akan berlangsung dalam jangka pendek seiring dengan ekspektasi kenaikan suku bunga acuan AS dan ketidakpastian ekonomi global. Impor barang dan bahan baku menjadi lebih mahal, berpotensi mendorong inflasi dan menekan daya beli masyarakat. Sementara itu, eksportir justru diuntungkan karena penerimaan dalam dolar AS menjadi lebih bernilai dalam rupiah.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat bergantung pada kebijakan moneter BI, perkembangan data ekonomi AS, serta aliran modal asing ke pasar keuangan Indonesia. Apakah BI akan kembali mengintervensi pasar atau justru membiarkan rupiah mencari keseimbangan baru? Pertanyaan ini menjadi kunci bagi arah nilai tukar dalam beberapa pekan mendatang.



