Olinda Cho Lolos ke Top 14 Usai Lupa Lirik di Panggung, Begini Cara Bangkitnya
Baca dalam 60 detik
- Penyanyi Singapura Olinda Cho berhasil melaju ke babak 14 besar kompetisi Midlife, Sing & Shine! 4 di Hong Kong meski sempat lupa lirik saat membawakan lagu berbahasa Kanton.
- Cho yang tidak fasih berbahasa Kanton mengaku gugup dan mengalami masalah teknis pada in-ear monitor, namun ia tetap tenang dan menyelesaikan penampilannya tanpa hambatan berarti.
- Kisah Cho menunjukkan bahwa kegagalan di panggung bukan akhir segalanya; kemampuan bangkit dan beradaptasi justru menjadi kunci sukses di industri hiburan.

Penyanyi asal Singapura, Olinda Cho, membuktikan bahwa kegagalan di atas panggung bukanlah akhir dari segalanya. Di usianya yang ke-46, mantan kontestan Singapore Idol ini berhasil melaju ke babak 14 besar kompetisi realitas Hong Kong, Midlife, Sing & Shine! 4, setelah tampil dalam babak "Classic Love Songs Night". Penampilannya membawakan lagu legendaris Faye Wong, Easily Hurt Woman (1992), sempat diwarnai insiden lupa lirik, namun ia berhasil bangkit dan menuai pujian dari penonton.
Cho mengaku tidak fasih berbahasa Kanton, bahasa yang digunakan dalam lagu tersebut. Dalam wawancara dengan Shin Min Daily News, ia mengungkapkan bahwa dirinya sempat kehilangan konsentrasi karena gugup dan masalah teknis pada in-ear monitor yang membuatnya tidak bisa mendengar iringan band dengan jelas. Meski demikian, ia memilih untuk tetap fokus dan menyelesaikan lagu tanpa menunjukkan kepanikan. "Seorang penyanyi tidak boleh dinilai hanya dari kesalahannya, melainkan dari cara mereka bangkit dan menyelesaikan lagu," ujarnya.
Persiapan untuk lagu tersebut tidaklah mudah. Cho menghabiskan satu bulan penuh di Hong Kong untuk berlatih secara intensif. Ia harus mempelajari tidak hanya melodi dan lirik, tetapi juga pelafalan Kanton yang benar serta nuansa emosional lagu. "Awalnya saya benar-benar tidak tahu bagaimana cara menghafal semua lirik. Saya tidak hanya belajar lagunya, tetapi juga bahasa, pelafalan, dan dunia emosional di balik lagu itu," kenangnya. Ini bukan pertama kalinya ia menyanyikan lagu Kanton di kompetisi tersebut; juri sebelumnya pernah mencatat bahwa ia tampak kurang nyaman bernyanyi dalam bahasa Kanton dibandingkan bahasa lain.
Pertanyaan yang muncul: mengapa tidak memilih lagu Mandarin atau Inggris yang lebih dikuasai? Cho menjelaskan bahwa sistem kompetisi tidak memberikan kebebasan penuh dalam pemilihan lagu. Peserta memilih lagu berdasarkan peringkat, dan ketika gilirannya tiba, sebagian besar lagu yang tersisa adalah lagu Kanton. "Di antara lagu-lagu itu, Easily Hurt Woman adalah yang paling saya kenal, jadi saya harus mengambil keputusan paling praktis," katanya. Baginya, pertumbuhan justru datang dari melangkah keluar dari zona nyaman.
Kisah Cho menyentuh realitas yang dihadapi banyak artis Indonesia yang merambah pasar regional, seperti Malaysia atau Taiwan, di mana kendala bahasa sering menjadi tantangan. Industri hiburan Indonesia sendiri tidak asing dengan fenomena penyanyi yang harus beradaptasi dengan bahasa daerah atau asing demi memperluas jangkauan karier. Cho membuktikan bahwa profesionalisme dan ketangguhan mental bisa mengatasi keterbatasan teknis dan linguistik. Ia menegaskan bahwa peran seorang penyanyi bukanlah menghindari rintangan, melainkan menghadapinya dan terus memperbaiki diri di setiap penampilan.
Ke depan, publik akan menantikan apakah Cho mampu mempertahankan konsistensinya di babak-babak selanjutnya. Dengan sistem kompetisi yang ketat dan tekanan bahasa yang masih ada, akankah ia terus memilih lagu Kanton atau beralih ke bahasa yang lebih dikuasai? Yang jelas, pengalamannya menjadi pelajaran berharga bahwa kegagalan di panggung bukanlah aib, melainkan batu loncatan untuk menjadi lebih baik.



