Gang of Four: Jejak Empat Konglomerat yang Menguasai Ekonomi Indonesia Sebelum Sembilan Naga
Baca dalam 60 detik
- Kelompok Gang of Four—Sudono Salim, Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto—menjadi pilar bisnis Orde Baru berkat kedekatan dengan Soeharto.
- Awal terbentuknya kelompok ini dipicu oleh kebutuhan Salim akan mitra pribumi untuk mengakses pinjaman, dengan Soeharto menunjuk sepupunya sebagai jaminan.
- Gurita bisnis mereka melahirkan perusahaan-perusahaan raksasa seperti Indofood, Indocement, dan Indomaret yang hingga kini mendominasi pasar Indonesia.

Jauh sebelum istilah Sembilan Naga populer sebagai simbol penguasaan ekonomi oleh segelintir konglomerat, Indonesia pernah mengenal kelompok yang lebih eksklusif: Gang of Four. Empat pengusaha keturunan Tionghoa ini menjadi tulang punggung dunia usaha pada era Orde Baru, berkat hubungan istimewa mereka dengan Presiden Soeharto. Kisah mereka bukan sekadar catatan sejarah bisnis, melainkan cermin bagaimana kekuasaan dan modal berkelindan membentuk struktur ekonomi yang masih terasa dampaknya hingga kini.
Gang of Four terdiri dari Sudono Salim (Liem Sioe Liong), Sudwikatmono, Ibrahim Risjad, dan Djuhar Sutanto. Pertemuan mereka pada 1968 menjadi titik awal terbentuknya konglomerasi yang kemudian melahirkan Salim Group. Namun, perjalanan menuju puncak kekuasaan ekonomi itu dimulai secara tidak sengaja, dipicu oleh kebutuhan seorang pengusaha akan akses permodalan.
Pada 1963, Salim yang sudah dikenal sebagai pengusaha ulang diundang ke kediaman Soeharto di Menteng. Saat itu, Sudwikatmono—yang masih berstatus pegawai dengan gaji Rp400 per bulan—sedang bertugas menjaga rumah sang jenderal yang tak lain adalah sepupunya. Soeharto kemudian meminta Salim merekrut Sudwikatmono sebagai jaminan untuk memudahkan akses pinjaman, mengingat Salim saat itu belum menjadi warga negara Indonesia. Tawaran gaji Rp1 juta per bulan plus saham di perusahaan membuat Sudwikatmono tak bisa menolak.
Langkah selanjutnya terjadi pada 1966 ketika perusahaan Kongsi Bintang Lima yang dekat dengan militer mengalami pecah kongsi. Soeharto memperkenalkan Djuhar Sutanto—seorang taipan yang memiliki peran penting di perusahaan tersebut—kepada Salim. Keduanya sepakat bekerja sama, dan dua tahun kemudian bersama Sudwikatmono mengambil alih CV Waringin. Karena Salim dan Djuhar belum berstatus WNI, nama Sudwikatmono dan Ibrahim Risjad—seorang pegawai Waringin—digunakan untuk urusan administrasi. Dari sinilah cikal bakal Gang of Four terbentuk, dengan bisnis awal berupa perdagangan kopi, produk primer, dan produksi karet remah di Sumatera.
Setelah Salim dan Djuhar resmi menjadi warga negara Indonesia dan Soeharto naik sebagai presiden, ekspansi bisnis mereka melesat. Mereka mendirikan PT Bogasari yang memonopoli produksi tepung terigu, lalu merambah ke berbagai sektor: semen (Indocement), makanan (Indofood), otomotif (Indomobil), dan ritel (Indomaret). Dukungan penuh dari kekuasaan membuat setiap lini bisnis mereka menguasai pasar dengan cepat. Masing-masing anggota kemudian mengembangkan gurita usahanya sendiri, namun tetap setia pada induknya, Salim Group.
Fenomena Gang of Four menjadi pelajaran berharga tentang bahaya konglomerasi yang bertumpu pada koneksi politik. Ketika Orde Baru runtuh, banyak dari kerajaan bisnis ini goyah, namun jejaknya masih membekas. Indofood, Indocement, dan Indomaret tetap menjadi pemain utama di sektor masing-masing. Pertanyaannya, apakah praktik bisnis yang mengandalkan kedekatan dengan kekuasaan telah benar-benar sirna, atau hanya berganti wajah dalam bentuk baru?



