Exeter Hancurkan Saracens 32-12, Lolos ke Semifinal Premiership dan Akhiri Era Mark McCall
Baca dalam 60 detik
- Exeter Chiefs mengalahkan Saracens 32-12 di Sandy Park, memastikan tempat di semifinal Premiership dan mengakhiri 17 tahun kepemimpinan Mark McCall.
- Kemenangan ini mengangkat Exeter ke peringkat ketiga, menyiapkan duel sengit melawan Bath, sementara Saracens tersingkir dari perebutan gelar.
- Pertandingan sarat emosi mengingat sejarah sengketa gaji antara kedua klub, dengan Exeter tampil dominan di babak kedua.

Exeter Chiefs memastikan langkah mereka ke semifinal Premiership setelah menundukkan musuh bebuyutan Saracens dengan skor telak 32-12 di Sandy Park, Sabtu (10/6). Kekalahan ini sekaligus mengakhiri era kepelatihan Mark McCall yang telah membesut Saracens selama 17 tahun.
Kemenangan ini membawa Exeter naik ke peringkat ketiga klasemen, menggeser Leicester Tigers yang turun ke posisi keempat. Hasil itu memastikan Exeter akan bertandang ke markas Bath pada semifinal pekan depan. Bagi Saracens, kekalahan ini menjadi akhir yang pahit bagi McCall, yang telah mempersembahkan enam gelar Premiership dan tiga Piala Champions Eropa selama masa baktinya.
Pertandingan berlangsung sengit sejak awal. Tobias Elliott membawa Saracens unggul lebih dulu melalui try awal, namun Henry Slade menyamakan kedudukan melalui penalty. Babak pertama berjalan ketat dengan Saracens mendominasi penguasaan bola, namun gagal memanfaatkan peluang. Rotimi Segun sempat mencetak try, tetapi dianulir setelah ulang tayang menunjukkan ia kehilangan bola saat menyentuh garis.
Momen kritis terjadi menjelang turun minum. Charlie Bracken, scrum-half Saracens, mendapat kartu kuning karena sengaja menjatuhkan bola. Exeter memanfaatkan keunggulan jumlah pemain dengan cepat: Max Norey mencetak try dari skema line-out cerdik, membawa Chiefs unggul 10-5 saat jeda.
Babak kedua menjadi milik Exeter. Dengan Saracens masih bermain dengan 14 pemain, Slade mencetak try keduanya setelah menerima umpan dari Campbell Ridl dan Olly Woodburn. Slade kemudian menambah penalty untuk memperlebar jarak. Pelatih Saracens, McCall, merespons dengan memasukkan Owen Farrell dan Noah Caluori, namun tak mampu mengubah ritme permainan.
Andrea Zambonin memastikan kemenangan Exeter dengan try di menit ke-64, memanfaatkan scrum penalty di dekat garis Saracens. Nick Isiekwe sempat memperkecil ketertinggalan untuk Saracens, tetapi Stephen Varney menutup pesta dengan try bonus point dua menit sebelum bubaran.
Pelatih serangan Exeter, Dave Walder, memuji konsistensi timnya. "Para pemain tampil luar biasa sepanjang tahun. Kami sempat kehilangan arah, tapi momentum kembali dalam beberapa pekan terakhir. Hari ini Anda bisa melihatnya," ujarnya kepada BBC Sport. Ia juga menekankan pentingnya mengelola emosi mengingat sejarah panas antara kedua klub terkait skandal gaji yang menjatuhkan Saracens pada 2020.
Di kubu lawan, McCall mengakui keunggulan Exeter. "Kami dikalahkan oleh tim yang lebih baik. Babak pertama kami fisiknya bagus, mendominasi posisi, tapi tidak mampu menuangkannya ke papan skor. Babak kedua sangat mengecewakan," katanya. Ia menyebut momen sebelum turun minum sebagai titik balik yang mengubah suasana stadion dan mental kedua tim.
Bagi penggemar rugbi di Indonesia, pertandingan ini menyajikan tontonan kelas atas dengan intensitas tinggi. Meski rugbi belum sepopuler sepak bola, performa Exeter yang bangkit dari keterpurukan pasca-skandal gaji Saracens bisa menjadi pelajaran tentang sportivitas dan daya juang. Pertanyaan besarnya: mampukah Exeter mempertahankan performa ini saat meladeni Bath di semifinal?



