Stokes Kritik Lord's: Lintasan Tak Ramah Batsman, Test Cricket Terancam
Baca dalam 60 detik
- Ben Stokes menilai kualitas pitch Lord's pada laga Inggris vs Selandia Baru tidak mendukung masa depan Test cricket.
- Pertandingan berakhir dalam 166 over, menjadikannya Test terpendek kedua di Lord's dan ketiga secara global.
- MCC mengakui kegagalan pitch dan berencana mengadopsi teknik steaming seperti Wimbledon untuk perbaikan.

Kapten tim kriket Inggris, Ben Stokes, melontarkan kritik tajam terhadap kondisi lapangan Lord's yang digunakan dalam pertandingan Test pertama melawan Selandia Baru. Menurutnya, permukaan yang sulit bagi batsman itu justru kontraproduktif bagi kelangsungan format tertinggi olahraga ini.
Inggris sukses memulai era pasca-Ashes dengan kemenangan 115 run atas Black Caps, sebelum makan siang pada hari keempat. Namun, jika bukan karena cuaca buruk, pertandingan seharusnya sudah berakhir dalam dua hari. Total 166 over yang dibutuhkan untuk menyelesaikan laga menjadikannya Test terpendek kedua dalam 150 pertandingan di Lord's, dan terpendek ketiga di semua stadion ketika 40 wicket berhasil diraih.
"Sebagai seseorang yang mencintai Test cricket, apakah ini akan menguntungkan Test cricket? Saya rasa tidak," ujar Stokes kepada BBC Test Match Special. "Tapi tidak ada yang melakukannya dengan sengaja. Menjadi groundsman itu pekerjaan sulit."
Lintasan Lord's musim ini memang menjadi sorotan. Dalam kondisi lembap, dengan pertandingan sering berlangsung di bawah langit kelabu dan lampu sorot, bola bergerak ke samping secara konsisten. Tantangan bagi batsman diperparah dengan pantulan tidak merata yang muncul sejak awal. Mantan kapten Inggris Michael Vaughan mengatakan ia "merasa kasihan" pada para batsman, sementara komentator utama BBC Jonathan Agnew menyebut pitch itu "sangat buruk".
Menanggapi kritik, Marylebone Cricket Club (MCC), pemilik Lord's, mengakui bahwa permukaan tersebut gagal memenuhi standar. "Kami menyadari bahwa pitch untuk Test ini menunjukkan variasi pantulan yang lebih besar dari yang kami inginkan," ujar CEO MCC Rob Lawson. Ia menjelaskan bahwa cuaca panas dan kering pada Mei, diikuti kondisi basah menjelang pertandingan, menjadi tantangan dalam persiapan.
MCC berencana mengadopsi teknik "steaming" yang digunakan All England Lawn Tennis Club untuk lapangan Wimbledon. Metode ini memompa uap bersuhu 200 derajat Fahrenheit ke dalam tanah sedalam tujuh inci. Klub juga mengakui perlunya melapisi ulang square dan tengah bereksperimen dengan drop-in pitches yang lazim di Australia.
Bagi Inggris dan Stokes, kemenangan ini menjadi pelepas dahaga setelah kekalahan 4-1 di Ashes Australia. Stokes mengakui tekanan besar yang dihadapi manajemen jika kembali kalah. "Saya sangat, sangat senang kami menang minggu ini. Saya tahu betapa besarnya pertandingan ini dalam hal hasil dan bagaimana persepsi eksternal jika tidak berjalan baik," katanya.
Pertanyaan kini mengemuka: apakah kemenangan cepat seperti ini justru mengikis daya tarik Test cricket di mata penggemar? Dengan lima pertandingan tersisa di musim panas, Inggris harus membuktikan bahwa mereka bisa tampil menarik tanpa mengorbankan kualitas pertandingan.



