Prabowo Copot Kepala BGN: Isu Jual Beli Dapur Umum MBG Jadi Pemicu
Baca dalam 60 detik
- Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman mengungkapkan Presiden Prabowo menerima banyak laporan terkait dugaan jual beli titik dapur umum MBG sebelum mencopot Dadan Hindayana.
- Pencopotan Dadan dari Kepala BGN diputuskan setelah evaluasi 1,5 tahun, dengan catatan soal disiplin SOP, tata kelola, dan kualitas makanan.
- Pergantian ini menandai upaya perbaikan manajemen program MBG yang bernilai triliunan rupiah, dengan harapan tidak ada celah penyimpangan.
Presiden Prabowo Subianto mengambil keputusan mengejutkan dengan mencopot Dadan Hindayana dari jabatan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) pada Selasa malam, 2 Juni 2026. Langkah ini dipicu oleh banyaknya laporan yang masuk ke Istana, termasuk dugaan praktik jual beli titik Satuan Pelayanan dan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur umum program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Kepala Staf Kepresidenan (KSP) Dudung Abdurachman mengungkapkan bahwa Presiden telah lama mendengar, mencermati, dan mengevaluasi berbagai informasi dari sejumlah pihak sebelum akhirnya memutuskan pergantian tersebut. "Saya punya keyakinan bahwa Bapak Presiden sudah lama mendengar informasi, mencermati, menganalisa, mengevaluasi berbagai sumber yang masuk ke beliau," ujar Dudung di Kompleks Parlemen Jakarta, Rabu, 3 Juni 2026.
Dudung tidak menampik bahwa salah satu laporan yang menjadi pertimbangan adalah temuan dugaan jual beli titik SPPG. "Ya, kemungkinan besar seperti itu, banyak lah informasi-informasi ke beliau. Saya rasa ke Presiden yang nyampe bukan tidak serta merta dari temuan saya di lapangan, tetapi dari banyak sumber lah," tuturnya. Ia sendiri mengaku menemukan sejumlah masalah dan ketimpangan dalam pelaksanaan MBG di berbagai daerah.
Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa keputusan pencopotan diambil setelah Prabowo melakukan pemantauan dan evaluasi selama kurang lebih satu setengah tahun. "Banyak catatan-catatan yang kemudian menjadi bahan pertimbangan bapak presiden untuk melakukan pergantian ini. Dengan harapan catatan-catatan tersebut dapat segera diperbaiki," kata Prasetyo dalam konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa, 2 Juni 2026.
Catatan yang ditemukan antara lain berkaitan dengan kedisiplinan dalam menjalankan standar operasional prosedur (SOP), tata kelola organisasi, hingga menjaga kualitas makanan yang telah ditetapkan oleh BGN. Dudung menilai manajemen BGN harus diperbaiki agar tidak ada celah penyimpangan yang dimanfaatkan oleh pemilik SPPG maupun yayasan. "Niat baik Bapak Presiden untuk mencerdaskan anak-anak melalui program MBG ini ya artinya tidak hanya sekedar makan saja tetapi manajemen ini memang harus kita atur sehingga tidak ada celah-celah penyimpangan," pungkasnya.
Bagi masyarakat Indonesia, program MBG merupakan salah satu prioritas pemerintah yang menyentuh langsung kebutuhan gizi anak-anak. Dengan nilai anggaran yang besar, potensi penyimpangan menjadi perhatian serius. Pergantian kepemimpinan BGN diharapkan mampu membenahi tata kelola dan memastikan program berjalan sesuai target. Pertanyaan selanjutnya: akankah Nanik Sudaryati Deyang mampu membersihkan praktik-praktik yang dinilai menyimpang dan mengembalikan kepercayaan publik?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7888802/original/088640200_1780717331-IMG_4763.jpeg)

