IHSG Anjlok 4% Lebih, Rupiah Tembus Rekor Terendah: Apa yang Terjadi?
Baca dalam 60 detik
- Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambles lebih dari 4% pada perdagangan Rabu (3/6/2026), meninggalkan level 6.000 setelah sehari sebelumnya ditutup menguat.
- Tekanan jual dipicu oleh aksi jual asing pasca rebalancing MSCI per 1 Juni 2026, dengan saham konglomerasi dan perbankan menjadi pemberat utama.
- Rupiah ikut terpuruk ke level Rp17.925/US$, menembus rekor terendah sepanjang masa dan mendekati batas psikologis Rp18.000/US$.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami kejatuhan dramatis pada perdagangan Rabu (3/6/2026), dengan koreksi lebih dari 4% yang menghapus seluruh penguatan hari sebelumnya. Dalam sekejap, indeks utama bursa saham Indonesia itu terhempas meninggalkan level 6.000, meninggalkan investor dalam suasana panik di tengah derasnya arus modal asing yang keluar.
Data perdagangan menunjukkan sebanyak 679 saham tercatat melemah, sementara hanya 75 saham yang berhasil bertahan di zona hijau. Nilai transaksi mencapai Rp13,14 triliun dengan volume 20,47 miliar saham, menandakan aktivitas jual-beli yang luar biasa tinggi. Kapitalisasi pasar pun tergerus menjadi Rp10.454 triliun, menyusut signifikan dalam hitungan jam.
Sektor-sektor utama menjadi korban paling parah. Bahan baku, kesehatan, dan utilitas masing-masing ambles 9,16%, 7,15%, dan 6,9%โangka yang jarang terjadi dalam satu hari perdagangan. Saham-saham yang sebelumnya menjadi motor penggerak indeks justru berbalik menjadi beban terbesar. Amman Mineral (AMMN) terjun bebas hingga menyentuh batas auto reject bawah (ARB) 14,91%, menyumbang -17,62 poin terhadap pelemahan IHSG. Dua saham milik Prajogo Pangestu, Barito Renewables Energy (BREN) dan Barito Pacific (BRPT), secara total menggerus -20,75 poin. Sementara itu, saham perbankan jumbo seperti Bank Central Asia (BBCA) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI) masing-masing berkontribusi -16,39 poin dan -15,68 poin.
Tekanan jual ini tidak terlepas dari efektifnya rebalancing indeks MSCI per 1 Juni 2026, yang memicu arus keluar dana asing secara besar-besaran. Sehari sebelumnya, investor domestik sempat menahan laju penurunan dengan membeli saham senilai Rp1,39 triliun, namun kekuatan asing terbukti terlalu dominan. Co-Founder PasarDana, Hans Kwee, menilai bahwa saham-saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Index dan MSCI Small Cap Index masih berpotensi mengalami tekanan lebih lanjut. "Pasca rebalancing MSCI ini bisa jadi bottom dari penurunan IHSG dan berpeluang kembali bangkit mengikuti fundamental perusahaan di masa depan," ujarnya.
Di sisi lain, nilai tukar rupiah ikut terperosok ke level terendah sepanjang masa. Pada pukul 11.00 WIB, rupiah melemah 0,4% ke Rp17.925 per dolar AS, menembus level psikologis Rp17.900 dan semakin mendekati batas Rp18.000. Pelemahan ini menambah kekhawatiran investor akan stabilitas makroekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global.
Menariknya, bursa saham di kawasan Asia justru menunjukkan kinerja positif. Nikkei Jepang memimpin dengan kenaikan 2,91%, disusul Shenzen 2,31% dan Taiwan 2,11%. Kontras ini menegaskan bahwa tekanan di pasar Indonesia lebih bersifat domestik, terutama dipicu oleh faktor teknis rebalancing MSCI dan sentimen negatif terhadap saham-saham tertentu.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah koreksi ini akan berlanjut atau justru menjadi titik balik bagi IHSG. Hans Kwee optimistis reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO telah meningkatkan transparansi dan kredibilitas, yang pada akhirnya dapat memulihkan kepercayaan investor. Namun, dengan rupiah yang terus melemah dan aliran dana asing yang masih deras keluar, investor domestik mungkin harus bersiap menghadapi volatilitas yang masih tinggi dalam beberapa pekan ke depan.



