John Kear Tutup Usia: Pelatih Legendaris yang Mengubah Wajah Rugby League
Baca dalam 60 detik
- John Kear, pelatih yang membawa Sheffield Eagles dan Hull FC meraih gelar Challenge Cup, meninggal di usia 71 tahun.
- Kear dikenal sebagai 'pelatih underdog' berkat kemampuannya membalikkan keadaan tim yang tidak diunggulkan, termasuk menyelamatkan Wakefield Trinity dari degradasi.
- Warisan Kear meliputi komentar khasnya di BBC dan dedikasinya pada rugby league, mulai dari level klub hingga tim nasional Wales.

John Kear, sosok yang namanya identik dengan kejutan-kejutan besar di rugby league Inggris, mengembuskan napas terakhir pada usia 71 tahun. Pelatih yang pernah membawa Sheffield Eagles dan Hull FC menjuarai Challenge Cup ini meninggalkan jejak tak terhapuskan sebagai arsitek kemenangan-kemenangan yang di luar dugaan.
Kear, yang akrab disapa JK, memulai karier sebagai pemain di klub masa kecilnya, Castleford Tigers, sebelum beralih ke dunia kepelatihan. Namanya melambung pada 1998 saat ia memimpin Sheffield Eagles—klub yang saat itu tidak diunggulkan—mengalahkan raksasa Wigan Warriors di final Challenge Cup di Wembley. Kemenangan itu hingga kini dikenang sebagai salah satu kejutan terbesar dalam sejarah kompetisi tersebut.
Tujuh tahun kemudian, Kear kembali menorehkan prestasi serupa. Ia membawa Hull FC, yang juga tidak difavoritkan, menaklukkan Leeds Rhinos di final Challenge Cup 2005 di Cardiff. Kemenangan itu diraih berkat strategi psikologisnya yang cerdik. Menjelang pertandingan, ia melempar lelucon bahwa ia akan memakai sepatu sepak bolanya sendiri jika pemain bintang Leeds, Keith Senior, tetap dimainkan meski cedera. Senior akhirnya tampil, tetapi performanya jauh dari optimal, dan Hull menang dramatis.
Kemampuan Kear membalikkan keadaan kembali teruji pada 2006 ketika ia ditunjuk sebagai pelatih Wakefield Trinity dengan sisa beberapa pekan musim kompetisi. Tim tersebut nyaris pasti terdegradasi, namun di bawah asuhannya, Wakefield bangkit dan memenangkan pertandingan penentuan melawan Castleford—klub yang sangat ia cintai—untuk bertahan di divisi utama. Setelah pertandingan, ketika ditanya seberapa gugup dirinya, Kear menjawab dengan tenang, "Tidak sama sekali. Saya habiskan pagi hari dengan menyetrika." Jawaban itu menjadi ciri khas humornya yang rendah hati.
Kear juga pernah menangani Huddersfield Giants, Bradford Bulls, Widnes Vikings, dan sempat menjadi asisten pelatih di Wigan. Ia melatih tim nasional Inggris pada Piala Dunia 2000, memimpin Prancis untuk waktu singkat, dan membawa Wales ke dua edisi Piala Dunia (2017 dan 2022). Perannya bersama Wales menjadi salah satu yang paling ia banggakan. Namun, satu hal yang selalu ia sesali adalah tidak pernah mendapat kesempatan melatih Castleford, klub yang pertama kali menanamkan kecintaan pada rugby league dalam dirinya.
Di luar lapangan, Kear adalah sosok yang dicintai rekan-rekannya di BBC. Matt Newsum, komentator rugby league BBC, mengenangnya sebagai pribadi yang antusias dan murah hati. "Dia lebih dari sekadar kolega. Ketika ayah saya meninggal tahun lalu, John menjadi sosok pengganti yang luar biasa," ujar Newsum. Kear juga dikenal karena kegemarannya bercerita dan kebiasaannya menjadi orang terakhir yang meninggalkan bar setelah pertandingan, menikmati obrolan tentang olahraga yang ia cintai.
Kepergian John Kear meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sahabat, dan komunitas rugby league. Namun, warisannya sebagai pelatih underdog yang brilian dan komentator yang penuh semangat akan terus dikenang. Pertanyaan yang kini menggantung: mampukah generasi penerus meniru jejaknya dalam menciptakan kejutan-kejutan yang membuat olahraga ini begitu memikat?



