Wigan Warriors Hancurkan St Helens 42-6, Pertahankan Gelar Challenge Cup
Baca dalam 60 detik
- Wigan Warriors mencetak 10 percobaan untuk mengalahkan St Helens 42-6 di final Challenge Cup putri, mempertahankan gelar untuk kedua kalinya berturut-turut.
- Eva Hunter menjadi bintang dengan mencetak empat percobaan, sementara Anna Davies menambahkan dua percobaan dalam performa dominan Wigan.
- Kemenangan ini menandai pergeseran kekuasaan di rugby putri Inggris, mengakhiri dominasi St Helens yang sebelumnya memenangkan empat gelar beruntun.

Wigan Warriors mempertahankan gelar Challenge Cup putri dengan kemenangan telak 42-6 atas St Helens di Stadion Wembley, Sabtu (24/5). Dalam pertandingan yang didominasi sejak menit awal, Wigan mencetak sepuluh percobaan dan menunjukkan kelasnya sebagai tim terkuat di Inggris saat ini.
Pertandingan ini merupakan ulangan final tahun lalu yang juga dimenangkan Wigan dengan skor 42-6. Namun, performa kali ini dinilai lebih impresif. Pelatih Denis Betts mengatakan timnya tampil klinis sejak peluit pertama dibunyikan. "Kami tidak memberi mereka kesempatan untuk bernapas," ujarnya usai pertandingan.
Eva Hunter menjadi bintang lapangan dengan mencetak empat percobaan. Dua percobaan pertamanya tercipta dalam 15 menit pertama melalui serangan sayap kiri yang mematikan. Hunter juga menambahkan dua percobaan lagi di babak kedua, melengkapi penampilan yang disebut sebagai "Woman of Steel" oleh komentator.
St Helens hanya mampu membalas satu kali melalui Luci McColm menjelang turun minum. Itu pun tidak cukup untuk mengubah jalannya pertandingan. Pertahanan St Helens yang biasanya solid justru menjadi titik lemah. Wigan dengan mudah menembus garis pertahanan lawan, terutama melalui Hunter dan Anna Davies yang mencetak dua percobaan.
Kemenangan ini menegaskan perubahan peta kekuatan di rugby putri Inggris. Sebelum final tahun lalu, St Helens telah memenangkan empat gelar Challenge Cup berturut-turut. Namun, dua kekalahan beruntun di final menunjukkan bahwa era kejayaan mereka telah berakhir. "Ini adalah pernyataan bahwa permainan telah berubah," kata Betts.
Bagi penggemar rugby di Indonesia, pertandingan ini menjadi contoh bagaimana tim yang solid secara kolektif mampu mengalahkan lawan yang mengandalkan individu bintang. Meski rugby putri belum sepopuler di Inggris, perkembangan liga domestik di sana bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan olahraga ini di Tanah Air.
Pertandingan final putri ini digelar bersamaan dengan final putra antara Wigan dan Hull KR. Sejak 2023, kedua final digelar di hari yang sama di Wembley, namun belum ada tim yang berhasil memenangkan kedua gelar sekaligus. Wigan putri setidaknya telah memberikan tekanan positif bagi rekan-rekan putra mereka.
Dengan performa seperti ini, Wigan Warriors putri diprediksi akan terus mendominasi kompetisi domestik dalam beberapa musim ke depan. Pertanyaan besarnya: mampukah St Helens bangkit kembali atau akan ada tim lain yang mampu menantang supremasi Wigan?



