Lampu Pintar IoT Signify Klaim Hemat Energi 80%, Dorong Dekarbonisasi Bangunan di Indonesia
Baca dalam 60 detik
- Signify menghadirkan sistem pencahayaan berbasis IoT yang mampu menekan konsumsi listrik hingga 80% dan mengurangi emisi karbon secara signifikan.
- Inovasi ini menjawab tantangan transisi energi di Indonesia, di mana kebutuhan listrik masih bergantung pada fosil.
- Teknologi Interact memungkinkan pengelolaan pencahayaan gedung secara otomatis, membuka peluang efisiensi operasional bagi sektor properti dan industri.

Transisi energi yang tengah berlangsung di Indonesia mendorong transformasi di industri pencahayaan. Signify, produsen lampu di balik merek Philips, memperkenalkan sistem pencahayaan pintar berbasis Internet of Things (IoT) yang diklaim mampu menghemat energi hingga 80% dan memangkas emisi karbon secara drastis.
Perusahaan yang telah beroperasi di Indonesia sejak 1895 ini meluncurkan Signify Interact, sebuah platform kontrol pencahayaan untuk bangunan pintar. Sistem ini tidak hanya mengganti lampu konvensional dengan LED, tetapi juga menghubungkannya dalam jaringan IoT sehingga pencahayaan dapat diatur secara otomatis berdasarkan hunian, waktu, atau kebutuhan spesifik. Langkah ini dinilai strategis di tengah meningkatnya konsumsi listrik yang sebagian besar masih dipasok dari pembangkit fosil.
Menurut Lucas Ardhana, Director and Commercial Leader for the Professional Channel di Signify, inovasi ini merupakan respons terhadap kebutuhan efisiensi energi di sektor komersial dan industri. "Dengan mengganti lampu konvensional ke LED terkoneksi, penghematan energi bisa mencapai 65-80%," ujarnya dalam wawancara dengan media. Ia menambahkan, pengurangan emisi karbon yang dihasilkan setara dengan menanam ribuan pohon setiap tahunnya.
Bagi Indonesia, adopsi teknologi ini memiliki implikasi langsung terhadap upaya dekarbonisasi nasional. Sektor bangunan menyumbang porsi signifikan konsumsi energi, terutama dari pencahayaan. Dengan sistem pintar, gedung perkantoran, mal, atau pabrik dapat menurunkan tagihan listrik sekaligus memenuhi target pengurangan emisi yang diamanatkan dalam Nationally Determined Contribution (NDC).
Namun, tantangan tetap ada. Biaya investasi awal untuk retrofit sistem pencahayaan masih relatif tinggi, meski penghematan jangka panjang diyakini mampu menutupnya. Selain itu, kesiapan infrastruktur IoT dan sumber daya manusia yang memahami teknologi ini masih terbatas. "Edukasi pasar dan dukungan kebijakan menjadi kunci," kata Lucas.
Ke depan, persaingan di segmen pencahayaan pintar diprediksi semakin ketat. Pemain lokal dan global berlomba menawarkan solusi serupa. Pertanyaannya, seberapa cepat pasar Indonesia siap mengadopsi teknologi ini secara massal?



