Petenis Ukraina Kecam Rekan Rusia di Prancis Terbuka: 'Ini Soal Kemanusiaan'
Baca dalam 60 detik
- Oleksandra Oliynykova kalah dari Diana Shnaider di babak ketiga Prancis Terbuka, lalu melontarkan kritik keras terhadap petenis Rusia yang dianggap mendukung perang.
- Oliynykova menuntut WTA bertindak tegas terhadap pemain yang berpartisipasi dalam turnamen sponsor Gazprom, menyebutnya setara dengan bermain di Nazi Jerman.
- Konflik ini mempertegas polarisasi di tenis putri, dengan petenis Ukraina bersikukuh menolak jabat tangan dan menuntut sikap dari rekan Rusia.

Petenis Ukraina Oleksandra Oliynykova kembali menjadi sorotan setelah kalah dari Diana Shnaider asal Rusia di babak ketiga Prancis Terbuka, Sabtu (1/6). Usai pertandingan, ia membacakan pernyataan emosional yang mengecam rekan-rekan Rusia yang dinilainya bungkam atau mendukung invasi ke Ukraina. "Ini bukan soal politik, tapi kemanusiaan. Ketika orang dibunuh dan anak-anak sekarat, kami tidak bisa berpura-pura tidak terjadi apa-apa," ujarnya dalam konferensi pers.
Pertandingan di lapangan kecil Roland Garros itu berlangsung dalam pengamanan ekstra. Oliynykova, yang kalah 7-5, 6-1, mendapat dukungan dari komunitas Ukraina dan penggemar Prancis. Ia melambaikan tangan dan membentuk simbol hati, namun sengaja menghindari kontak mata dengan Shnaider. Kedua pemain tetap menandatangani tanda tangan bersama di dekat kursi wasit seusai laga.
Sebelum pertandingan, Oliynykova menuduh Shnaider mendukung Presiden Rusia Vladimir Putin karena tampil di turnamen eksibisi St Petersburg yang disponsori Gazprom, perusahaan gas milik negara Rusia. "Sama saja dengan bermain di Nazi Jerman untuk petugas Gestapo, di turnamen yang diselenggarakan perusahaan pembangun Auschwitz. Tidak ada bedanya," kata Oliynykova pekan lalu. Shnaider menolak berkomentar soal perang dan membela keputusannya bermain di Rusia sebagai kesempatan langka bertemu keluarga.
Oliynykova, yang menjalani musim perdananya di WTA Tour, telah menjadi suara paling lantang di kalangan petenis Ukraina. Ayah dan kekasihnya kini menjadi tentara di garis depan. Ia bahkan berlatih tanpa listrik dan air di apartemen Kyiv saat persiapan Australia Terbuka Januari lalu. "Jika saya diam, saya tidak mengerti apa yang saya lakukan di sini. Orang yang saya cintai akan terbunuh. Saya akan terbunuh. Tidak ada pilihan lain," tegasnya.
Oliynykova juga mengkritik WTA yang dinilainya munafik karena tidak menjatuhkan sanksi kepada pemain yang tampil di turnamen sponsor Gazprom. Sebelumnya, ia mengecam petenis top seperti Daniil Medvedev dan Aryna Sabalenka yang tidak bersuara menentang rezim negara mereka. Medvedev juga pernah tampil di Northern Palmyra Trophies yang didukung Gazprom. WTA dalam pernyataannya mengatakan situasi ini "sangat sensitif" dan menegaskan komitmen menjaga lingkungan profesional bagi semua atlet tanpa memandang kebangsaan.
Solidaritas antarpetenis Ukraina terlihat jelas. Marta Kostyuk, yang rumahnya di Kyiv nyaris terkena serangan drone, sebelumnya mengaku tidak merasakan empati dari pemain Rusia. "Pemain Rusia, jujur saja, mereka tidak mau berkomunikasi. Mereka punya keyakinan mengerikan. Ini harus dihentikan di olahraga profesional," tambah Oliynykova. Sikap ini tercermin dari kebiasaan petenis Ukraina yang menolak berjabat tangan dengan lawan Rusia usai pertandingan.
Bagi Indonesia, konflik ini menjadi pengingat bahwa olahraga tak bisa lepas dari politik global. Meski tenis bukan cabang dominan di Tanah Air, isu boikot dan sanksi terhadap atlet dari negara berkonflik kerap memicu perdebatan di komunitas olahraga nasional. Pertanyaan yang muncul: sejauh mana atlet harus bersikap atas nama kemanusiaan, dan apakah badan pengatur seperti WTA perlu mengambil langkah lebih tegas?



