Sarah Jessica Parker: Saya Rela Pakai Apa Saja Demi Peran Carrie Bradshaw
Baca dalam 60 detik
- Aktris Sarah Jessica Parker mengaku tanpa syarat memercayai kostum rancangan Patricia Field dan Molly Rogers untuk karakter Carrie Bradshaw.
- Proses fitting sering dilakukan dini hari setelah syuting, menunjukkan dedikasi tinggi para kru di balik gaya ikonik Sex and the City.
- Molly Rogers, perancang kostum pemenang Emmy, bahkan rela menyusuri loteng rumah orang hingga ke luar kota demi mencari busana unik.

Sarah Jessica Parker, yang memerankan Carrie Bradshaw dalam serial legendaris Sex and the City, mengungkapkan bahwa ia tidak pernah menolak kostum apa pun yang disodorkan tim desain—betapa pun gila atau ekstremnya busana tersebut. Dalam wawancara dengan People, Parker menegaskan bahwa kepercayaan penuh kepada perancang kostum Patricia Field dan Molly Rogers menjadi kunci di balik penampilan ikonik yang melekat pada karakternya.
Serial yang tayang dari 1998 hingga 2004 itu dikenal lewat gaya busana Carrie yang eklektik, mulai dari rok tutu putih di kredit pembuka hingga hiasan kepala burung di episode pernikahannya dengan Mr. Big. Parker mengakui bahwa proses fitting sering berlangsung larut malam—bahkan pukul 2, 3, atau 4 pagi—setelah syuting selesai. “Mereka punya barang-barang paling gila. Ada Polaroid, ada dokumentasi semua itu. Saya akan pakai apa pun untuk mereka, karena Anda tidak pernah tahu,” ujarnya.
Suasana fitting yang “konyol” itu justru menjadi kenangan indah bagi Parker. “Saat itu sangat menyenangkan, dan kami semua belum punya anak, tidak ada yang harus buru-buru pulang,” kenangnya. Ia secara khusus menyebut Molly Rogers sebagai sosok yang membuatnya rela mengenakan busana apa pun. Rogers, yang memenangkan Emmy pada 2002 untuk karyanya di Sex and the City, dikenal tak kenal lelah mencari pakaian unik untuk para karakter.
Parker menceritakan bagaimana Rogers rela melakukan perjalanan jauh demi mendapatkan busana tertentu. “Dia seperti, ‘Ada seorang wanita. Saya bertemu seorang wanita. Dia di Albany.’ Itu benar. Dia masuk ke rumah orang… menggali barang-barang di loteng di Albany atau Georgia atau di suatu tempat di luar London!” kisah Parker. Dedikasi semacam itu menjadi bukti bahwa setiap detail kostum dipikirkan secara matang untuk menghidupkan karakter.
Menariknya, di balik kesuksesan gaya Carrie, Rogers mengakui bahwa banyak potongan favoritnya justru tidak pernah muncul di layar. “Sungguh menakjubkan. Potongan favorit saya tidak masuk ke serial televisi itu,” ungkapnya kepada Fashionphile. Hal ini menunjukkan betapa selektifnya tim produksi dalam memilih busana yang benar-benar mewakili kepribadian Carrie.
Fenomena Sex and the City tidak hanya memengaruhi industri mode global, tetapi juga merambah Indonesia. Gaya busana Carrie Bradshaw kerap menjadi referensi bagi para penggemar mode Tanah Air, terutama di era media sosial. Akun-akun fashion lokal sering mengulas ulang padanan busana ala Carrie yang bisa ditiru dengan merek lokal. Bahkan, beberapa butik di Jakarta dan Bandung mengadakan acara bertema Sex and the City untuk merayakan estetika tahun 2000-an.
Ke depan, dengan rencana sekuel atau spin-off yang terus bergulir, pertanyaan besarnya adalah: akankah gaya Carrie Bradshaw kembali mendefinisikan tren mode generasi baru? Atau justru era kebebasan berekspresi melalui busana yang diperkenalkan serial ini sudah menjadi standar baru yang tak tergantikan?



