Sony Bersihkan PlayStation Store: 1.200 Game Webnetic Dihapus Sekaligus
Baca dalam 60 detik
- Sony menghapus 1.222 game milik Webnetic dari PlayStation Store sebagai bagian dari pembersihan konten berkualitas rendah.
- Webnetic sebelumnya merupakan penerbit game terbesar ketiga di platform tersebut, namun kini harus beralih ke Xbox, Nintendo, dan Steam.
- Langkah ini menandai perubahan kebijakan ketat Sony terhadap game yang dianggap menyesatkan atau tidak memenuhi standar.

PlayStation Store kembali mengalami gelombang penghapusan massal. Sony resmi menarik 1.222 judul game milik penerbit Webnetic dari platformnya, menjadikan Webnetic sebagai korban terbaru dari kebijakan ketat perusahaan terhadap konten berkualitas rendah.
Sejak awal tahun, Sony gencar menindak penerbit dan pengembang yang dinilai menyajikan game menyesatkan atau tidak layak. Dalam beberapa bulan terakhir, ratusan judul telah dihapus. Kini giliran Webnetic, yang sebelumnya menempati peringkat ketiga sebagai penyedia game terbanyak di PlayStation Store, kehilangan seluruh katalognya.
Keputusan ini memicu reaksi beragam di media sosial. Sebagian pengguna X menyatakan kekecewaan, namun tidak sedikit yang justru menyambut baik pembersihan tersebut. Mereka menilai langkah Sony perlu dilakukan untuk menjaga kualitas dan kepercayaan konsumen terhadap ekosistem PlayStation.
Webnetic sendiri telah mengumumkan penghentian operasinya di PlayStation melalui akun X resmi. Dalam pernyataannya, mereka mengucapkan terima kasih kepada para pemain dan mengundang pengguna untuk mengikuti petualangan mereka di platform lain, seperti Xbox, Nintendo, dan Steam. “Ini adalah hari-hari terakhir kami di PlayStation,” tulis Webnetic, seraya mendorong pemain untuk mencoba game mereka sebelum benar-benar hilang.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada Webnetic, tetapi juga mencerminkan tren industri game global yang semakin selektif. Bagi gamer Indonesia, langkah Sony bisa menjadi angin segar karena mengurangi risiko membeli game yang tidak layak. Namun, di sisi lain, penghapusan massal ini juga menimbulkan pertanyaan tentang masa depan penerbit kecil yang bergantung pada platform besar.
Para analis memperkirakan bahwa Sony akan terus memperketat kontrol kualitas, terutama setelah kritik terhadap banyaknya game “shovelware” yang membanjiri toko digital. Langkah serupa juga dilakukan oleh Microsoft dan Nintendo, meskipun dengan pendekatan yang berbeda. Ke depannya, penerbit game harus lebih berhati-hati dalam memenuhi standar platform jika ingin bertahan di pasar yang semakin kompetitif.



