Nissan Bayar Remunerasi Rp140 M ke 5 Direksi di Tengah Kerugian Dua Tahun Beruntun
Baca dalam 60 detik
- Lima petinggi Nissan, termasuk Presiden Ivan Espinosa, menerima total kompensasi 1,39 miliar yen (Rp140 miliar) pada tahun fiskal 2025/2026, meski perusahaan mencatatkan rugi bersih dua tahun berturut-turut.
- Espinosa mengembalikan secara sukarela setengah dari bonus berbasis kinerjanya di tengah program restrukturisasi yang memangkas 20.000 pekerjaan global hingga 2027.
- Kebijakan kompensasi ini memicu pertanyaan tentang tata kelola perusahaan, terutama saat Nissan membukukan akumulasi kerugian lebih dari 1,2 triliun yen akibat biaya restrukturisasi besar-besaran.

Lima eksekutif puncak Nissan Motor Co., termasuk Presiden Ivan Espinosa, mengantongi total remunerasi 1,39 miliar yen (setara Rp140 miliar) untuk tahun fiskal yang berakhir Maret 2026, meskipun pabrikan otomotif Jepang itu baru saja membukukan kerugian bersih untuk tahun kedua beruntun. Fakta ini terungkap dalam pemberitahuan rapat pemegang saham yang dirilis Kamis (29/5/2026).
Kompensasi sebesar itu diberikan di saat Nissan tengah menjalani program restrukturisasi paling agresif dalam sejarahnya, termasuk pemutusan hubungan kerja terhadap 20.000 karyawan secara global hingga tahun fiskal 2027. Espinosa, yang baru menjabat presiden pada April 2025, secara sukarela mengembalikan setengah dari pembayaran berbasis kinerjanya, menurut dokumen yang sama. Namun, rincian kompensasi per individu tidak diungkapkan.
Kebijakan ini langsung menuai sorotan karena kontras dengan kinerja keuangan perusahaan. Nissan mencatat rugi bersih 533,10 miliar yen pada tahun fiskal terakhir, setelah sebelumnya menderita rugi 670,90 miliar yen. Akumulasi kerugian dua tahun mencapai lebih dari 1,2 triliun yen, terutama akibat biaya restrukturisasi yang membengkak. Padahal, struktur remunerasi eksekutif Nissan terdiri dari komponen tetap, berbasis kinerja, dan kompensasi saham โ yang seharusnya mencerminkan hasil perusahaan.
Bagi pasar otomotif Indonesia, perkembangan ini menjadi pengingat akan pentingnya tata kelola perusahaan yang transparan. Nissan saat ini masih menjadi pemain di segmen mobil penumpang Tanah Air melalui model seperti Nissan Livina dan Serena, meskipun pangsa pasarnya terus tergerus oleh kompetitor Jepang dan China. Jika restrukturisasi global Nissan berimbas pada alokasi sumber daya ke pasar Asia Tenggara, konsumen Indonesia bisa merasakan dampaknya dalam bentuk pengurangan varian atau layanan purnajual.
Menurut analis tata kelola perusahaan dari Universitas Indonesia, praktik pembayaran bonus besar di tengah kerugian menunjukkan lemahnya pengawasan dewan komisaris. โMeskipun Espinosa mengembalikan sebagian bonusnya, sistem kompensasi yang tidak sepenuhnya terkait dengan kinerja jangka panjang bisa memicu konflik kepentingan antara manajemen dan pemegang saham,โ ujarnya.
Ke depan, Nissan dijadwalkan menggelar rapat umum pemegang saham pada Juni 2026. Salah satu agenda yang paling dinanti adalah penjelasan manajemen mengenai kebijakan kompensasi ini, terutama apakah pemegang saham akan menuntut perubahan struktur remunerasi yang lebih ketat. Pertanyaan besarnya: mampukah Nissan memulihkan profitabilitas tanpa mengorbankan kepercayaan investor?



