Zara Larsson: Tradisi Pop Swedia Membentuk Melodi, Ambisi Global Mengarahkan Karier
Baca dalam 60 detik
- Zara Larsson mengaitkan kesuksesannya dengan tradisi pop Swedia yang bersih, langsung, dan emosional, namun ia tetap mengincar suara global yang ambisius.
- Masa-masa surut dalam kariernya mengajarkan bahwa fase tenang bukanlah kegagalan, melainkan kesempatan untuk membangun kembali dan belajar.
- Pelantun hits ini juga menyoroti persaingan tak sehat antarpenggemar yang kerap membandingkannya dengan Tate McRae, sebuah fenomena umum dalam industri pop wanita.

Zara Larsson, penyanyi Swedia berusia 28 tahun, meyakini bahwa masa kecilnya di Swedia telah membentuk kepekaan melodinya, sebuah fondasi yang kemudian ia padukan dengan ambisi global untuk menciptakan suara pop yang khas. Dalam wawancara dengan Vogue Singapore, ia menjelaskan bagaimana tradisi pop Swedia yang "bersih, langsung, dan emosional tanpa terlalu rumit" menjadi dasar musiknya, namun ia juga selalu menatap ke luar negeri untuk meraih suara global yang besar.
Bagi Larsson, pengaruh budaya Swedia tidak bisa dilepaskan dari kesuksesannya. "Swedia memiliki tradisi pop yang kuat, dan tumbuh di sana pasti membentuk telinga saya untuk melodi," ujarnya. Namun, ia tidak ingin terpaku pada satu gaya. "Saya juga selalu melihat ke luar. Saya menginginkan suara global yang besar. Jadi, musik saya memiliki fondasi melodis Swedia, tetapi dengan energi ambisius seorang gadis pop."
Masa kecil Larsson diisi dengan kekaguman pada ikon global seperti Beyoncé dan bintang lokal Swedia, Carola Häggkvist. Ia mengaku sejak kecil sudah berkhayal berada di panggung besar. "Saya pikir beberapa orang memang terlahir untuk menghibur, itu sudah ada dalam diri mereka sejak lahir. Saya pasti salah satu dari mereka," katanya.
Karier Larsson tidak selalu mulus. Setelah awal yang gemilang, ia mengalami masa surut yang panjang. Kini, saat berada di puncak lagi, ia merenungkan pelajaran berharga dari masa-masa sulit tersebut. "Pop itu brutal karena semua orang ingin segera menyatakan sesuatu berakhir. Tapi karier itu panjang jika kamu terus muncul. Saya harus belajar bahwa musim sepi bukan berarti kegagalan. Itu bisa menjadi musim membangun kembali, musim belajar, musim menjadi," ungkapnya.
Di sisi lain, Larsson baru-baru ini mengungkapkan kekesalannya terhadap penggemar yang kerap membandingkannya dengan Tate McRae, penyanyi 22 tahun yang ia dukung dalam tur Miss Possessive Tour 2025. Dalam podcast Call Her Daddy, ia mengatakan, "Saya pikir itu sudah menjadi sifat alami cara orang berbicara tentang perempuan di pop. Kami mirip dalam hal kami sama-sama menari, meskipun dia penari yang jauh lebih baik. Dan saya melakukan pop, dia juga pop. Lebih mudah mendukung seseorang yang dianggap underdog, Anda tahu?"
Fenomena perbandingan antar artis wanita ini, menurut Larsson, adalah cerminan dari budaya pop yang seringkali tidak adil. Ia menekankan bahwa setiap artis memiliki perjalanan dan keunikan masing-masing, dan persaingan yang diciptakan penggemar justru merugikan industri musik itu sendiri. Dengan pengalaman pasang surut yang dialaminya, Larsson kini lebih fokus pada proses kreatif dan ketahanan karier jangka panjang, bukan sekadar popularitas sesaat.



