Perang Iran Kian Mengguncang Pasokan Nafta Global, Jepang Alami Penurunan Impor 47%
Baca dalam 60 detik
- Impor nafta Jepang ambrol 47% pada April 2026 akibat gangguan pasokan dari Timur Tengah pasca serangan AS-Israel ke Iran.
- Penutupan efektif Selat Hormuz memicu lonjakan impor dari AS hingga 209 kali lipat, mengubah peta pemasok global.
- Krisis ini berpotensi memicu efek domino pada industri plastik dan bahan kimia Indonesia yang bergantung pada impor nafta.

Impor nafta berbasis minyak bumi Jepang merosot tajam 47 persen pada April 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, menjadi hanya 1,14 juta kiloliter. Data Kementerian Keuangan Jepang yang dirilis Kamis (28/5) mengonfirmasi bahwa gangguan pasokan bahan baku utama plastik dan serat sintetis ini mulai berdampak luas pada rantai industri, dari pengemasan makanan hingga konstruksi properti.
Penurunan drastis tersebut terutama dipicu oleh amblesnya impor dari kawasan Timur Tengah hingga 79,1 persen. Penyebabnya adalah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026 yang mengakibatkan penutupan efektif Selat Hormuzโjalur vital pengangkutan energi dunia. Akibatnya, pangsa impor nafta Jepang dari Timur Tengah menyusut drastis dari sekitar 70 persen sebelum perang menjadi hanya 30 persen pada April lalu, atau setara 341.728 kiloliter.
Pemerintah Jepang bergerak cepat mendiversifikasi sumber pasokan. Impor nafta dari luar Timur Tengah melonjak 52,4 persen secara tahunan. Amerika Serikat muncul sebagai pemasok terbesar dengan volume 272.534 kiloliterโangka yang melesat 209 kali lipat dibandingkan April 2025. Selain AS, Jepang juga meningkatkan pembelian dari Aljazair dan Korea Selatan untuk menambal kekurangan pasokan.
Gangguan pasokan nafta telah memicu efek berantai di dalam negeri Jepang. Perusahaan makanan terpaksa mengubah desain kemasan produk mereka karena kelangkaan bahan baku plastik. Sektor properti pun dilanda kekhawatiran akan keterlambatan serah terima unit kondominium baru akibat terhambatnya pasokan material konstruksi. Meski demikian, pemerintah Jepang membantah adanya kelangkaan absolut dan menjamin bahwa produk turunan nafta masih bisa dipasok hingga melampaui 2026 melalui sumber alternatif.
Bagi Indonesia, situasi ini menjadi alarm dini. Sebagai negara pengimpor nafta dalam jumlah signifikan untuk industri petrokimia, Indonesia rentan terhadap gejolak pasokan global. Jika konflik Iran-AS berkepanjangan dan Selat Hormuz tetap tidak stabil, harga nafta di pasar internasional berpotensi melonjak, menekan biaya produksi plastik, pupuk, dan bahan kimia lainnya. Pemerintah Indonesia perlu segera mengkaji opsi diversifikasi sumber impor, seperti meningkatkan kerja sama dengan Amerika Serikat atau produsen lain di Afrika dan Asia, untuk mengantisipasi krisis serupa.
Ke depan, ketergantungan dunia pada satu atau dua jalur pasokan energi terbukti menjadi kerentanan strategis. Perang di Iran telah memaksa negara-negara seperti Jepang untuk merombak total peta pemasok mereka dalam hitungan bulan. Pertanyaannya, seberapa cepat Indonesia dapat menyesuaikan diri jika krisis ini berlarut-larut?



