Paus Leo XIV Rilis Ensiklik Perdana: Seruan Etis di Tengah Revolusi AI
Baca dalam 60 detik
- Ensiklik Magnifica Humanitas menjadi dokumen Vatikan pertama yang secara khusus membahas kecerdasan buatan sebagai tema sentral.
- Peluncuran teks ini melibatkan panel yang menghadirkan eksekutif perusahaan AI, memicu perdebatan tentang independensi gereja.
- Dokumen ini menolak pandangan bahwa AI adalah penyelamat, dan menekankan perlunya dialog publik tentang dampak sosial teknologi.

Vatikan untuk pertama kalinya menerbitkan ensiklik yang menjadikan kecerdasan buatan (AI) sebagai fokus utama, menandai babak baru dalam keterlibatan publik Takhta Suci pada isu teknologi. Dokumen berjudul Magnifica Humanitas (Kemanusiaan yang Agung) diluncurkan langsung oleh Paus Leo XIV di hadapan para pelaku industri AI, sebuah langkah yang dinilai berani sekaligus kontroversial.
Ensiklik ini tidak lahir dari ruang hampa. Selama satu dekade terakhir, Vatikan telah menjalin dialog tertutup dengan sektor AI melalui inisiatif seperti Minerva Dialogues. Namun, teks kali ini berbeda karena secara eksplisit mengkritik cara teknologi digital dan robotik membentuk ulang relasi sosial, pasar kerja, pendidikan, hingga peperangan. Paus Leo XIV, yang baru beberapa bulan menjabat, memilih tema ini sebagai ensiklik sosial pertamanya—sebuah isyarat bahwa gereja tidak bisa lagi diam terhadap percepatan teknologi.
Panel peluncuran yang digelar di Roma menghadirkan tokoh tak terduga: Chris Olah, salah satu pendiri Anthropic, perusahaan AI yang juga pengembang model bahasa besar. Kehadiran Olah menuai reaksi beragam. Sebagian pihak menilainya sebagai bukti keseriusan Vatikan berdialog dengan industri. Namun, tidak sedikit yang mempertanyakan apakah gereja justru terjebak dalam pengaruh korporasi. “Ini menunjukkan risiko naivitas terhadap penangkapan korporat,” ujar seorang anggota panel yang enggan disebut namanya, seperti dikutip dalam diskusi tertutup.
Dalam isinya, Magnifica Humanitas menolak narasi bahwa AI akan membebaskan manusia dari keterbatasan. Sebaliknya, dokumen ini menekankan bahwa teknologi harus memperkuat relasi antarmanusia yang terbatas dan bermakna, bukan menjadikan manusia sebagai alat keuntungan atau kekuasaan. “Yang penting adalah tujuan penggunaan AI dan hubungannya dengan sumber daya alam,” tulis Paus Leo, merujuk pada ensiklik Rerum Novarum yang ditulis oleh pendahulunya, Paus Leo XIII, sebagai respons terhadap Revolusi Industri.
Bagi Indonesia, pesan ensiklik ini relevan di tengah gencarnya adopsi AI di berbagai sektor—dari layanan publik hingga industri kreatif. Pemerintah Indonesia sendiri tengah menyusun regulasi etika AI, namun belum ada kerangka yang mengikat secara hukum. Dialog publik yang diusulkan Vatikan bisa menjadi model bagi Indonesia untuk melibatkan masyarakat sipil, akademisi, dan pelaku industri dalam merumuskan batasan etis. “Teknologi tidak netral, dan keputusan tentang masa depannya tidak boleh hanya diambil oleh segelintir orang kaya,” kata Olah dalam sambutannya.
Ensiklik ini juga menyoroti risiko ketergantungan baru, eksklusi, dan manipulasi yang dibawa oleh AI. Di dalam gereja sendiri, terdapat tiga kubu: optimis yang melihat AI sebagai peluang, kalangan hati-hati, dan “pesimis radikal” yang mengingatkan akan bahaya. Teks ini berusaha berada di tengah, mengakui potensi positif namun tidak menutup mata terhadap ancaman. “Setiap narasi positif tentang AI harus mampu menghadapi kenyataan pahit,” tegas dokumen tersebut.
Ke depan, pertanyaan terbesar bukanlah apakah AI akan mengubah dunia, melainkan siapa yang berhak menentukan arah perubahan itu. Ensiklik Magnifica Humanitas menawarkan satu jawaban: dialog sosial yang inklusif dan transparan. Akankah industri dan pemerintah mendengar seruan dari Vatikan?
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7366296/original/044645100_1780146957-dedi_mulyadi-_cek_fakta.jpg)

