Digitalisasi Ujian Nasional India: Sistem Baru, Masalah Baru
Baca dalam 60 detik
- Puluhan ribu siswa CBSE mengeluhkan ketidakcocokan lembar jawaban digital dan fisik setelah penerapan sistem penilaian daring.
- Seorang siswa mengaku berhasil meretas portal ujian, memicu kekhawatiran akan keamanan data dan integritas nilai.
- Kontroversi ini memperburuk citra sistem pendidikan India setelah skandal kebocoran soal NEET-UG yang mempengaruhi 2,28 juta peserta.

Sebuah keluhan viral dari seorang siswa kelas 12 di India mengenai ketidaksesuaian antara lembar jawaban fisik dan digitalnya telah berkembang menjadi badai nasional yang mengguncang kepercayaan terhadap sistem evaluasi ujian terbesar di negara itu. Central Board of Secondary Education (CBSE), yang menaungi sekitar dua juta peserta ujian tahun ini, kini berada di bawah tekanan publik setelah sistem penilaian digital barunya—On-Screen Marking (OSM)—justru memicu gelombang protes.
OSM dirancang untuk memindai lembar jawaban fisik dan mengunggahnya ke portal daring agar dinilai oleh guru, dengan harapan mengurangi kesalahan manusia dan meningkatkan transparansi. Namun, yang terjadi sebaliknya: siswa melaporkan hasil pindaian buram, halaman hilang, hingga ketidakcocokan antara salinan digital dan kertas asli. Sejak hasil diumumkan, lebih dari 400.000 siswa telah meminta salinan pindaian lembar jawaban mereka, sementara 1,1 juta lainnya mengajukan permohonan salinan fisik—angka yang mencerminkan besarnya keresahan.
Kontroversi ini tidak berdiri sendiri. Hanya beberapa bulan sebelumnya, ujian masuk kedokteran nasional, NEET-UG, dibatalkan setelah tuduhan kebocoran soal yang mempengaruhi 2,28 juta kandidat dan dikaitkan dengan sejumlah kasus bunuh diri. Dua insiden ini memicu kritik tajam dari politisi oposisi Rahul Gandhi, yang menuding pemerintah Perdana Menteri Narendra Modi mengabaikan masa depan generasi muda dan menuntut pengunduran diri Menteri Pendidikan.
Puncak kegaduhan adalah klaim seorang siswa, Vedant Srivastava, yang menemukan bahwa lembar jawaban fisika yang dikirimkan CBSE bukan miliknya—tulisan tangan dan jawabannya berbeda. Setelah viral, banyak siswa lain melaporkan hal serupa. CBSE kemudian mengirimkan salinan "benar" tanpa penjelasan memadai, dan Srivastava menunjukkan bahwa salinan tersebut memiliki tanda tangan manual, bukan centang hijau digital seperti sistem OSM.
Ancaman keamanan siber turut memperkeruh suasana. Nisarga Adhikary, seorang "ethical hacker", mengaku berhasil meretas portal CBSE pada Februari lalu dengan memecahkan kata sandi master. Ia mengakses catatan siswa, lembar jawaban, dan akun evaluator. Adhikary melaporkan enam hingga tujuh celah keamanan ke CERT-IN, badan siber India, namun CBSE membantah dengan menyatakan bahwa URL yang diretas hanyalah situs uji coba dan tidak berisi data evaluasi asli. "Jika ini portal uji, mengapa data evaluator dan lembar jawaban diunggah di sana?" tanya Adhikary.
Bagi Indonesia, kisruh ini menjadi pelajaran berharga. Digitalisasi sistem ujian nasional yang tengah digodok di Tanah Air harus mengantisipasi masalah serupa: akurasi pemindaian, keamanan data, dan pelatihan guru. Tanpa persiapan matang, transisi ke sistem digital justru bisa memperparah ketidakadilan yang sudah ada. Pertanyaan besarnya: apakah infrastruktur dan sumber daya manusia kita siap menghadapi tantangan ini?

