Sistem Kontrol Industri 2026: Perang Senyap di Balik Infrastruktur Kritis
Baca dalam 60 detik
- Sistem kontrol industri (ICS) yang dirancang era pra-siber kini menjadi sasaran utama negara dan kriminal, dengan lebih dari sepertiga infrastruktur energi global diprediksi telah dimasuki aktor negara pada 2026.
- Keterbatasan dana dan risiko downtime membuat penggantian perangkat keras berusia 20-30 tahun sulit dilakukan, sehingga keamanan harus ditambahkan tanpa mengganggu operasi.
- Adopsi zero trust, segmentasi mikro, dan manajemen identitas menjadi kunci, namun AI bukanlah solusi tunggal karena justru bisa menambah permukaan serangan.

Serangan terhadap sistem kontrol industri (ICS) diprediksi meningkat drastis pada 2026, didorong oleh konflik geopolitik yang menjadikan infrastruktur kritis sebagai medan perang baru. Ancaman tidak lagi sekadar peretasan biasa, melainkan strategi pre-positioning yang memungkinkan musuh menguasai sistem dari dalam sebelum dilancarkan saat krisis.
ICS dirancang untuk keandalan dan keselamatan, bukan keamanan siber. Perangkat kerasnya bisa berusia 20 hingga 30 tahun, menggunakan protokol usang tanpa autentikasi, dan berada dalam jaringan datar yang rentan. Operator enggan mematikannya untuk diperbarui karena downtime berarti kerugian besar. Kondisi ini dimanfaatkan penyerang, baik negara maupun kriminal, untuk menyusup secara diam-diam.
Menurut Michael Freeman, kepala intelijen ancaman Armis, pada 2026 lebih dari sepertiga infrastruktur energi dan utilitas global akan mengalami aktivitas pre-positioning siber. Aktor negara menyusup melalui rantai pasok perangkat lunak, mengumpulkan data, dan memetakan operasi. Akses yang tampak jinak ini bisa diubah menjadi senjata saat ketegangan geopolitik memuncak.
Ancaman ransomware juga tak kalah serius. Andrew Lintell dari Claroty menyebut 12% perangkat OT diperkirakan membawa kerentanan yang dapat dieksploitasi, dan 7% terkait kampanye ransomware. Pada 2025, Cyble mencatat 5.967 serangan ransomware global, banyak di antaranya menargetkan industri kritis. Perangkat lunak perusak khusus OT seperti VoltRuptor, yang dijual di forum gelap, menunjukkan eskalasi ancaman.
Penggantian perangkat keras secara menyeluruh bukan solusi jangka pendek. Biaya tinggi, masalah interoperabilitas, dan risiko downtime membuat operator mempertahankan sistem lama. Sebaliknya, keamanan modern harus ditambahkan tanpa mengganggu operasi. Pendekatan yang diusung adalah zero trust, segmentasi mikro, dan manajemen identitas yang ketat.
James Maude dari BeyondTrust menekankan pentingnya mengelola akses istimewa ke lingkungan kritis. Setiap karyawan, vendor, dan pihak ketiga hanya diberi akses minimal sesuai tugas, dipantau secara real-time, dan dapat dicabut jika terjadi kompromi. Sementara itu, Brian Reed dari Corsha menyoroti autentikasi berkelanjutan untuk identitas mesin sebagai lapisan kontrol yang mudah diterapkan.
Carlos Buenano dari Armis melihat Continuous Threat Exposure Management (CTEM) sebagai prinsip pengorganisasian program keamanan OT pada 2026. CTEM beralih dari manajemen kerentanan periodik ke penilaian eksposur berbasis risiko secara terus-menerus, dengan mempertimbangkan dampak fisik dan keselamatan manusia, bukan sekadar skor CVSS.
Kecerdasan buatan (AI) mulai digunakan untuk deteksi anomali pasif yang aman bagi jaringan ICS rapuh. Jeff Macre dari Darktrace menjelaskan AI dapat mempelajari pola normal setiap lingkungan, mengurangi positif palsu, dan memberikan respons otonom dengan tetap melibatkan manusia. Namun, Gary Schwartz dari NetRise memperingatkan bahwa deteksi anomali hanya melihat gejala setelah kompromi terjadi, bukan akar penyebab seperti risiko rantai pasok perangkat lunak.
Bryson Bort dari SCYTHE mengingatkan bahwa penambahan alat keamanan, termasuk AI, justru meningkatkan risiko jika bergantung pada konektivitas internet. Setiap koneksi baru memperluas permukaan serangan. Oleh karena itu, ketahanan sejati membutuhkan kombinasi pemantauan perilaku dengan jaminan pra-penyebaran: memeriksa kode yang berjalan pada perangkat, memvalidasi integritasnya, dan mengatur pembaruan secara ketat.
Bagi Indonesia, ancaman ini relevan mengingat banyak infrastruktur kritis seperti kelistrikan, air, dan transportasi masih menggunakan sistem warisan. Keterbatasan anggaran dan sumber daya manusia ahli OT menjadi tantangan. Sam Maesschalck dari Immersive menekankan perlunya pelatihan berbasis skenario dan laboratorium OT realistis untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja. Tanpa investasi pada sumber daya manusia, ketahanan siber nasional akan tertinggal.
Ke depan, keamanan ICS bukan lagi sekadar masalah teknis, melainkan prioritas keamanan nasional. Pertanyaannya, mampukah Indonesia mempercepat adopsi strategi zero trust dan CTEM sebelum gelombang serangan berikutnya tiba?


