Paul McCartney Sejajarkan Taylor Swift dengan The Beatles: Fenomena Penggemar yang Sama
Baca dalam 60 detik
- Paul McCartney menyebut Taylor Swift mengalami tingkat popularitas global yang sebanding dengan demam Beatlemania pada 1960-an.
- Legenda The Beatles itu menolak memberi nasihat kepada Swift karena menilai sang penyanyi sudah mampu mengelola kariernya sendiri.
- McCartney juga mengungkapkan keengganannya berfoto selfie dengan penggemar, khawatir kehilangan identitas pribadi seperti 'monyet' di Saint-Tropez.

Sir Paul McCartney, legenda hidup The Beatles, secara terbuka menyamakan fenomena popularitas Taylor Swift dengan demam yang melanda grupnya di era 1960-an. Dalam wawancara dengan BBC Tracks of My Years, McCartney mengakui adanya 'paralel' antara pengalaman The Beatles dan Swift, terutama dalam hal skala penggemar yang melampaui batas negara.
Menurut McCartney, Taylor Swift saat ini menikmati tingkat ketenaran yang nyaris identik dengan apa yang dirasakan The Beatles saat puncak Beatlemania. "Kau bisa melihat paralelnya, soal ketenaran dan besarnya penggemar di seluruh dunia yang dimiliki Taylor Swift dan yang kami alami," ujarnya. Namun, ia menegaskan bahwa Swift tidak membutuhkan nasihat darinya. "Jika dia meminta, pasti akan kuberi. Aku seperti kakak laki-laki bagi generasi itu, atau lebih tepatnya kakek," tambah McCartney dengan nada humor.
Pertemuan McCartney dengan Swift terjadi di sebuah pesta yang digelar oleh istrinya, Nancy Shevell, dan putrinya, Stella McCartney. Acara tersebut juga dihadiri oleh deretan penyanyi perempuan papan atas seperti Billie Eilish, Olivia Rodrigo, dan Sabrina Carpenter. McCartney mengaku kagum dengan kualitas vokal dan kepribadian mereka. "Mereka orang-orang keren, sangat baik. Suara mereka kusukai. Jika butuh saran, aku akan senang memberikannya, tapi sepertinya mereka tidak membutuhkannya," katanya.
Di luar perbandingan dengan Swift, McCartney juga berbagi pandangannya tentang cara menghadapi ketenaran. Dalam podcast The Rest Is Entertainment, ia mengaku bahwa pada awalnya ia menikmati perhatian publik. "Saat pertama kali terkenal, kau menyukainyaโitulah yang ingin kau capai. Tidak ada keluhan seperti 'Oh, orang-orang menggangguku', itu penyakit modern. Kami menyukainya. Dan kau belajar menghadapinya," jelasnya.
Meski demikian, McCartney tetap teguh pada prinsipnya untuk tidak berfoto selfie dengan penggemar. Ia mengibaratkan dirinya seperti monyet di Saint-Tropez yang difoto dengan bayaran. "Saat aku berfoto dengan seseorang, aku merasa seperti monyet itu. Aku bukan lagi diriku sendiriโaku tiba-tiba menjadi sesuatu yang lain," ungkapnya. Baginya, menjaga 'kenormalan' dan 'kepolosan' adalah hal yang esensial agar tidak kehilangan jati diri.
Fenomena ini menarik untuk dicermati di Indonesia, di mana demam Taylor Swift juga terasa kuat. Konser The Eras Tour yang digelar di Jakarta pada Maret 2024 lalu menyedot puluhan ribu penggemar, menunjukkan bahwa daya tarik Swift melampaui batas geografis. Perbandingan McCartney mengingatkan bahwa fenomena penggemar massal bukanlah hal baru, namun tetap relevan di era digital di mana interaksi artis-penggemar semakin intim dan instan.
Ke depan, apakah Taylor Swift akan mampu mempertahankan popularitasnya selama beberapa dekade seperti The Beatles? Atau akankah ia memilih jalur berbeda, seperti yang dilakukan McCartney dengan menolak selfie? Yang jelas, pengakuan dari seorang legenda seperti McCartney menegaskan bahwa Swift telah menempati posisi istimewa dalam sejarah musik pop.



