Milei Klaim Sukses Kendalikan Inflasi Argentina, Ekonom Sebut Itu Ilusi
Baca dalam 60 detik
- Inflasi bulanan Argentina turun drastis dari 25,5% menjadi 2,6% dalam setahun, namun dianggap sebagai hasil dari penekanan upah yang justru menggerogoti ekonomi.
- Ekonom Can Cinar menilai keberhasilan Milei lebih merupakan ilusi karena kebijakan penghematan ekstrem mengorbankan daya beli masyarakat dan menghambat pertumbuhan.
- Model penurunan inflasi ala Milei mendapat pujian dari kalangan konservatif global, tetapi para pengkritik memperingatkan bahwa pendekatan ini tidak berkelanjutan dan berisiko memicu krisis sosial.

Ketika Javier Milei menjabat sebagai Presiden Argentina pada Desember 2023, inflasi bulanan mencapai 25,5% dan laju tahunan menembus 211%. Kini, angka tersebut merosot tajam menjadi 2,6% per bulan dan 32% secara tahunan. Meskipun masih termasuk tertinggi di dunia setelah Venezuela, Sudan Selatan, dan Iran, pencapaian ini dipuji sebagai sebuah keajaiban ekonomi oleh para pendukungnya.
Milei, seorang populis sayap kanan yang terkenal dengan aksi gergaji mesin di panggung untuk menekankan komitmen fiskal konservatif, menjadikan pengendalian inflasi sebagai inti kampanyenya. Ia terus membanggakan kemampuannya menekan kenaikan harga dan bersikeras target akhirnya adalah inflasi nol persen. Kebijakannya bahkan menarik kekaguman dari kalangan konservatif di seluruh dunia yang melihatnya sebagai cetak biru untuk memerangi inflasi.
Namun, sejumlah ekonom memperingatkan bahwa penurunan inflasi ini lebih merupakan ilusi daripada mukjizat. Can Cinar, peneliti tamu di City St George's, University of London, dalam wawancaranya dengan The Conversation Weekly podcast menyatakan, "Di atas kertas, angkanya terlihat cukup baik, tetapi gambaran yang lebih besar adalah ekonomi sedang dirusak, dilubangi dari dalam." Cinar menjelaskan bahwa pemerintah Milei berhasil menekan inflasi dengan sengaja menekan upah pekerja, yang berdampak langsung pada daya beli masyarakat.
Kebijakan penghematan ekstrem yang diterapkan Milei, termasuk pemotongan subsidi energi dan transportasi serta pengurangan belanja negara, memang berhasil menurunkan tekanan harga. Namun, konsekuensinya adalah kontraksi ekonomi yang parah. Banyak warga Argentina mengalami penurunan pendapatan riil, sementara biaya hidup masih tinggi. Hal ini memicu peningkatan kemiskinan dan ketidakpuasan sosial.
"Penurunan inflasi yang dicapai Milei bukanlah hasil dari peningkatan produktivitas atau investasi, melainkan dari pengorbanan kesejahteraan rakyat," ujar Cinar, yang baru saja menerbitkan buku tentang populisme dan ekonomi di Argentina.
Para kritikus menilai bahwa model Milei tidak berkelanjutan dalam jangka panjang. Tanpa pertumbuhan ekonomi yang inklusif, penekanan upah hanya akan menunda masalah, bukan menyelesaikannya. Argentina, yang sudah lama bergulat dengan krisis utang dan ketidakstabilan moneter, kini menghadapi risiko resesi yang lebih dalam. Meskipun angka inflasi menurun, fundamental ekonomi justru melemah.
Ke depan, tantangan terbesar Milei adalah menjaga stabilitas harga tanpa mengorbankan pertumbuhan dan kesejahteraan rakyat. Jika tidak, apa yang disebut sebagai "keajaiban" inflasi bisa berubah menjadi bencana sosial-ekonomi. Dunia pun mengamati apakah model Argentina ini layak ditiru atau justru menjadi peringatan akan bahaya kebijakan penghematan yang terlalu agresif.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7250363/original/053619500_1780036542-IMG_0253.jpeg)
