Luka Abadi Liberia: Kanibalisme dan Mistisisme yang Mengakar dari Perang Saudara
Baca dalam 60 detik
- Perang Saudara Liberia Pertama (1989-1997) menewaskan 250.000 jiwa dan memicu praktik kanibalisme sistematis yang diyakini memberikan kekuatan spiritual.
- Tokoh seperti 'General Butt Naked' memimpin ritual pemakanan hati anak-anak dan memanfaatkan tentara anak yang kecanduan narkoba untuk memperkuat pasukan.
- Warisan konflik masih terasa: Liberia menjadi salah satu negara termiskin dengan tingkat buta huruf 50% dan pengangguran 80%.

Perang saudara yang melanda Liberia antara 1989 hingga 2003 tidak hanya merenggut ratusan ribu jiwa, tetapi juga meninggalkan trauma kolektif akibat praktik kanibalisme dan ritual mistis yang dilakukan secara terbuka. Konflik yang dipicu perebutan kekuasaan dan dendam etnis ini mengubah jalanan Monrovia menjadi medan pembantaian dengan tingkat kebrutalan yang jarang tercatat dalam sejarah modern Afrika.
Akar kekerasan bermula dari pembunuhan mantan Panglima Angkatan Bersenjata Liberia, Thomas Quiwonkpa, pada 1985 oleh rezim Samuel Doe. Quiwonkpa yang berasal dari etnis Gio dan Mano tidak hanya dibunuh, tetapi juga dimutilasi dan sebagian tubuhnya dilaporkan dimakan oleh algojo Doe. Tindakan ini memicu siklus balas dendam antaretnis yang meluas, di mana kelompok etnis Krahn—pendukung Doe—menjadi sasaran kemarahan kelompok Gio dan Mano yang bergabung dalam National Patriotic Front of Liberia (NPFL) pimpinan Charles Taylor.
Salah satu figur paling kontroversial adalah Joshua Milton Blahyi, yang dikenal sebagai “General Butt Naked”. Ia memimpin pasukan dalam keadaan telanjang dan mengaku memakan hati anak-anak sebelum bertempur. Dalam pengakuannya di hadapan Komisi Kebenaran dan Rekonsiliasi Liberia pada 2008, Blahyi menyatakan bahwa ritual tersebut dipercaya memberikan perlindungan spiritual dan membelokkan peluru musuh. Ia juga merekrut anak-anak berusia sembilan tahun sebagai tentara, memberi mereka kokain dan heroin agar kecanduan dan bersedia bertempur tanpa bayaran.
Praktik kanibalisme tidak hanya dilakukan oleh Blahyi. Banyak kombatan menggunakan organ tubuh manusia sebagai aksesori senjata untuk menakuti lawan. Mitos lokal juga mengaitkan konsumsi jantung manusia dengan peningkatan kekuatan fisik. Stephen Ellis dalam bukunya The Mask of Anarchy (1999) mencatat bahwa setelah 1991, kanibalisme menjadi hal lumrah dan para pejuang sering membanggakan diri karena telah memakan jantung manusia.
“Setiap kali kami merebut sebuah kota, saya harus melakukan pengorbanan manusia. Mereka membawakan saya seorang anak hidup yang saya sembelih dan mengeluarkan hatinya untuk saya makan,” ujar Blahyi dalam sidang TRC.
Kekerasan berakhir sementara setelah kematian Samuel Doe pada 1990, namun perang kembali pecah pada 1999 ketika kelompok pendukung Doe berusaha menggulingkan Charles Taylor. Perang Saudara Liberia Kedua (1999-2003) kembali menimbulkan korban massal dan memperparah krisis kemanusiaan. Hingga kini, Liberia masih bergulat dengan warisan konflik: 50% penduduk buta huruf, 70% perempuan pernah mengalami kekerasan seksual, dan 80% dari 3,9 juta jiwa menganggur.
Laporan pada 2024 menunjukkan bahwa praktik ritual mutilasi masih terjadi di daerah terpencil seperti Kabupaten Lofa, menandakan bahwa akar mistisisme dan dendam belum sepenuhnya terhapus. Tanpa rekonsiliasi yang mendalam dan pemulihan ekonomi yang inklusif, Liberia berisiko terus dihantui oleh masa lalunya yang kelam.


