Eksekusi Mati di China: Pembunuh Bos Game Tersohor Dieksekusi
Baca dalam 60 detik
- Xu Yao dihukum mati pada 21 Mei lalu setelah terbukti meracuni rekan bisnisnya, miliarder Lin Qi, pada 2020.
- Motif pembunuhan dipicu oleh pemecatan Xu dari posisi puncak di anak perusahaan Yoozoo Games yang mengelola waralaba Three-Body.
- Kasus ini menyoroti ketegangan internal dalam industri kreatif China dan dampaknya terhadap proyek adaptasi global seperti serial Netflix '3 Body Problem'.

Otoritas China telah melaksanakan hukuman mati terhadap Xu Yao, pria yang terbukti membunuh rekan bisnisnya, miliarder industri game Lin Qi, pada 2020. Eksekusi yang dilaporkan terjadi pada 21 Mei lalu dikonfirmasi oleh perusahaan Lin, Yoozoo Games, dalam pernyataan resmi yang dirilis Selasa (24/5).
Xu Yao dihukum pada 2024 setelah pengadilan menemukan bahwa ia meracuni Lin dengan menyamarkan zat berbahaya sebagai pil probiotik. Perselisihan bermula ketika Lin memutuskan untuk menunjuk eksekutif lain untuk mengelola operasi bisnis Three-Body Universe, anak perusahaan yang sebelumnya dipimpin Xu. Menurut laporan media lokal, Xu merasa tersisih setelah membantu Lin mendapatkan kesepakatan dengan Netflix untuk mengadaptasi trilogi fiksi ilmiah populer.
Trilogi fiksi ilmiah yang telah diterjemahkan ke hampir 30 bahasa itu menjadi salah satu tayangan paling banyak ditonton di Netflix pada 2024. Kematian Lin pada usia 39 tahun mengejutkan industri game di China dan global. Yoozoo Games dikenal luas melalui game strategi 'Game of Thrones: Winter Is Coming'.
Dalam pernyataannya, perusahaan menyampaikan duka mendalam dan mengapresiasi proses peradilan yang berjalan adil. โKami sangat berduka atas kepergian Tuan Lin dan menyampaikan belasungkawa tulus kepada keluarganya. Sebagai rekan yang berjuang bersamanya, seluruh anggota perusahaan bersyukur atas ketidakberpihakan proses hukum,โ demikian bunyi pernyataan tersebut.
Selain menyebabkan kematian Lin, racun yang digunakan Xu juga membuat beberapa orang lainnya sakit. Salah satu korban yang selamat menulis di media sosial, โKeadilan pada akhirnya tiba, meskipun terlambat,โ seperti dilaporkan Economic Observer.
Kasus ini menjadi pengingat akan risiko konflik internal dalam industri kreatif yang bernilai miliaran dolar, terutama ketika menyangkut hak kekayaan intelektual dan kepemimpinan proyek berskala global. Ke depannya, diharapkan tata kelola perusahaan yang lebih transparan dapat mencegah tragedi serupa terulang.


:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7240734/original/036437200_1780025633-IMG_0164.jpeg)
