Studi Ungkap Jalan Masuk Pria Muda ke 'Manosphere' Lewat Konten Sehari-hari di TikTok
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terhadap riwayat tontonan 142 pria muda di tiga negara menunjukkan hampir setengah konten yang mereka konsumsi mengandung tema maskulinitas.
- Konten maskulinitas terbagi dalam tiga kategori: cultural touchpoints (38%), masculine status (6%), dan degrading health (<1%), dengan eskalasi dari konten biasa hingga ekstrem.
- Temuan ini memungkinkan intervensi dini pada platform digital sebelum pengguna mencapai konten berbahaya, menggantikan pendekatan reaktif yang ada.

Sebuah studi terbaru yang menganalisis riwayat tontonan TikTok dari 142 pria muda di Australia, Amerika Serikat, dan Inggris mengungkap bagaimana konten sehari-hari yang tampak biasa dapat menjadi pintu masuk menuju ekosistem digital berbahaya yang dikenal sebagai manosphere. Penelitian ini menggunakan data nyata dari pengguna, bukan simulasi, sehingga memberikan gambaran autentik tentang paparan konten maskulinitas di platform media sosial.
Dari 2.000 video yang ditonton dalam sebulan terakhir, hampir separuhnya (44%) mengandung tema maskulinitas. Para peneliti mengelompokkannya ke dalam tiga kategori utama. Pertama, cultural touchpoints yang mencakup konten gym, olahraga, mode, dan kencan โ menyumbang 38% dari tontonan. Meski tampak netral, konten ini secara halus menanamkan norma tentang bentuk tubuh ideal dan minat pria yang seragam.
Kategori kedua, masculine status (6%), berisi konten motivasi dan pengembangan diri yang menekankan disiplin, ambisi, dan konsep "pria bernilai tinggi". Namun di baliknya, konten ini mempromosikan penekanan emosi, kekayaan finansial, dan memandang perempuan sebagai hadiah. Kategori ketiga, degrading health (kurang dari 1%), mencakup promosi peptida hormon, booster testosteron, serta misogini dan kekerasan terhadap perempuan โ sebagian besar melanggar pedoman komunitas TikTok.
Penelitian ini menunjukkan bahwa perjalanan menuju konten ekstrem sering dimulai dari hal biasa, seperti tutorial olahraga. Algoritma platform kemudian secara bertahap menyajikan konten yang semakin keras, sehingga pesan kebencian terasa wajar. "Manosphere tidak menciptakan tekanan ini โ ia menemukan kebutuhan yang tidak terpenuhi dan mengeksploitasinya demi keuntungan," tulis para peneliti.
Pendekatan moderasi saat ini bersifat reaktif, menghapus konten setelah melanggar aturan. Namun, studi ini menawarkan kerangka klasifikasi yang memungkinkan intervensi dini. Platform dapat menyesuaikan rekomendasi berdasarkan usia: konten cultural touchpoints mungkin cocok untuk remaja 16 tahun, tetapi masculine status dan degrading health seharusnya tidak direkomendasikan.
Ke depannya, temuan ini diharapkan menjadi dasar bagi kebijakan, reformasi platform, dan pengembangan sumber daya komunitas untuk melindungi pria muda dari paparan konten berbahaya. "Kita perlu berbicara dengan kefasihan yang sama seperti manosphere, tetapi dengan narasi alternatif yang didasarkan pada pengalaman nyata," tutup riset tersebut.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)


