Hoaks Video Produksi Hantavirus: Klaim Rekayasa Dibantah Fakta Evakuasi
Baca dalam 60 detik
- Sebuah video yang diklaim sebagai rekayasa produksi hantavirus ternyata merupakan dokumentasi evakuasi medis penumpang kapal pesiar MV Hondius di Spanyol.
- Klaim tersebut beredar luas di media sosial dan memicu reaksi negatif publik, namun verifikasi menunjukkan video asli adalah prosedur karantina di Bandara Tenerife Selatan.
- Fenomena misinformasi ini mengingatkan akan pentingnya literasi digital dan verifikasi fakta di tengah maraknya teori konspirasi kesehatan.

Sebuah video yang beredar di Facebook mengklaim memperlihatkan proses produksi rekayasa hantavirus di balik layar, dengan sejumlah orang mengenakan alat pelindung diri (APD). Unggahan dari akun “Wandi Coll” pada 14 Mei 2026 itu langsung menuai perhatian, mendapat 85 suka dan 136 kali dibagikan. Namun, verifikasi faktual membantah klaim tersebut.
Penelusuran dengan pencarian gambar terbalik mengarah ke kanal YouTube InformativosTvc, yang mengidentifikasi video tersebut sebagai proses evakuasi penumpang kapal pesiar MV Hondius yang terdampak wabah hantavirus. Peristiwa itu terjadi di Bandara Tenerife Selatan, Spanyol, pada 10 Mei 2026. Dalam rekaman, tim medis dan petugas keamanan menggunakan pakaian hazmat untuk memindahkan penumpang ke pesawat yang akan membawa mereka ke Rumah Sakit Gómez Ulla di Madrid.
Laporan ABC News mengonfirmasi bahwa lebih dari 140 orang di atas kapal tengah menjalani proses pemulangan. Meski tiga orang dilaporkan meninggal akibat hantavirus strain Andes, pihak berwenang Spanyol menyatakan tidak ada penumpang lain yang menunjukkan gejala. Hantavirus sendiri umumnya menular melalui kontak dengan hewan pengerat, bukan antarmanusia, kecuali strain Andes yang dapat menyebar melalui kontak dekat berkepanjangan.
Selain video utama, unggahan yang sama juga menyertakan klip lain yang memperlihatkan seorang pria tanpa APD di antara petugas kesehatan. Klip itu dijadikan “bukti” bahwa hantavirus hanyalah rekayasa. Faktanya, video tersebut berasal dari masa pandemi Covid-19 di Italia, di mana pasien di ruang karantina tidak diwajibkan memakai masker sesuai protokol Institut Kesehatan Tinggi Italia. Rumah Sakit San Raffaele, Milan, menjelaskan bahwa unit perawatan sub-intensif memang dirancang untuk pasien yang membutuhkan pemantauan konstan namun tidak dalam kondisi kritis.
Fenomena misinformasi ini menunjukkan bagaimana konteks asli sebuah peristiwa dapat dipelintir untuk mendukung narasi konspirasi. Di tengah maraknya teori yang menolak vaksin dan meragukan keberadaan virus, verifikasi fakta menjadi semakin krusial. Masyarakat diimbau untuk selalu memeriksa kebenaran informasi sebelum menyebarkannya, terutama yang berkaitan dengan isu kesehatan publik.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7244269/original/047100000_1780030180-IMG_0582.jpeg)


