Tottenham Selamat dari Degradasi, Tapi Euforia Suporter Diprediksi Segera Berubah Jadi Amarah
Baca dalam 60 detik
- Kemenangan dramatis atas Everton di laga pamungkas memastikan Tottenham bertahan di Premier League, sekaligus mengirim West Ham ke Championship.
- Di balik selebrasi, suporter menggelar spanduk protes terhadap pemilik ENIC, menyoroti rentetan keputusan buruk manajemen dan performa tim yang memalukan.
- Pelatih Roberto de Zerbi, yang datang sebagai penyelamat darurat, kini dihadapkan pada tugas besar membangun ulang skuad agar tak kembali terpuruk.

Tottenham Hotspur berhasil menghindari mimpi buruk degradasi setelah mengalahkan Everton 2-1 pada laga pamungkas Premier League, Minggu (19/5). Kemenangan di Tottenham Hotspur Stadium itu tak hanya mengamankan status The Lilywhites di kasta tertinggi, tetapi juga memastikan West Ham United turun ke Championship. Namun, euforia yang meluap di kalangan pemain dan suporter diprediksi hanya bersifat sementara, sebelum kemarahan kembali mengemuka.
Sepanjang musim, Spurs tampil inkonsisten dan hanya meraih tiga kemenangan kandang di liga. Finis di peringkat ke-17 untuk dua musim beruntun menjadi catatan terburuk dalam sejarah klub. Suporter yang sudah lama frustrasi dengan kepemilikan ENIC menggelar spanduk bertuliskan "Promised Success. Delivering Failure. ENIC out" sebagai bentuk protes. Mantan ketua Daniel Levy telah hengkang pada September lalu, namun manajemen baru yang dipimpin CEO Vinai Venkatesham dan direktur olahraga Johan Lange dinilai gagal memperbaiki arah klub.
Keputusan rekrutan pelatih menjadi sorotan utama. Thomas Frank, yang sukses di Brentford, hanya bertahan delapan bulan sebelum dipecat. Penggantinya, Igor Tudor, bahkan lebih singkat—hanya 44 hari dengan lima kekalahan dalam tujuh pertandingan. Gaya kepemimpinan Tudor yang keras mendapat kritik, terutama saat ia menarik kiper muda Antonin Kinsky setelah 17 menit di leg pertama babak 16 besar Liga Champions melawan Atletico Madrid tanpa memberikan dukungan moral. Kekacauan ini baru teratasi ketika Roberto de Zerbi datang sebagai pelatih darurat dan berhasil membawa Spurs keluar dari zona merah.
De Zerbi mengakui bahwa ia harus berperan ganda sebagai psikolog untuk membangkitkan moral tim. "Mulai pukul 7 atau 8 malam ini, kami akan mulai bekerja untuk musim depan," ujarnya usai pertandingan. Ia menekankan perlunya mendatangkan pemain level atas tanpa perlu banyak perubahan besar. Bek Micky van de Ven juga menyuarakan ketidakpuasan: "Finis ke-17 dua tahun berturut-turut tidak bisa diterima. Dengan manajer yang tepat, saya yakin kami bisa bangkit."
Namun, pekerjaan rumah masih menumpuk. Cedera panjang James Maddison dan Dejan Kulusevski menjadi alibi, tapi bukan pembenaran atas performa buruk secara kolektif. Masa depan kapten Cristian Romero dan beberapa pilar lainnya masih belum jelas. Sementara itu, Arsenal—rival sekota—merayakan gelar Premier League pertama mereka dalam 22 tahun di hari yang sama, menambah perih situasi Tottenham.
Euforia sesaat di lapangan, dengan selebrasi liar De Zerbi yang sempat terlibat adu mulut dengan pemain Everton, Seamus Coleman, serta aksi 'rugby tackle' dari kiper cadangan Guglielmo Vicario, mungkin menghibur. Namun, seperti yang diingatkan banyak pihak, sorak-sorai "We Are Staying Up" seharusnya menjadi alarm bagi seluruh klub. Jika tidak ada perubahan fundamental, bukan tidak mungkin Tottenham akan kembali berjuang di papan bawah musim depan.


