Survei Teori Konspirasi Terdistorsi oleh Troll: Studi Ungkap 'Lizardman Constant'
Baca dalam 60 detik
- Sebuah studi di Selandia Baru menemukan bahwa 8,3% responden mengaku tidak serius menjawab survei teori konspirasi, sehingga angka penganut teori tersebut bisa terlalu tinggi.
- Peneliti menggunakan teori konyol tentang 'tentara rakun super Kanada' untuk mendeteksi responden yang bercanda, dan 7,2% mengakuinya sebagai benar.
- Temuan ini menegaskan pentingnya menyaring jawaban tidak tulus dalam riset opini publik, meskipun pola hubungan psikologis di balik keyakinan konspirasi tetap valid.

Sebuah studi terbaru dari Selandia Baru mengungkapkan bahwa sebagian besar survei mengenai teori konspirasi mungkin terlalu membesar-besarkan jumlah penganut sejati, karena banyak responden yang memberikan jawaban tidak serius atau sekadar bercanda. Penelitian yang melibatkan 810 partisipan dewasa ini menemukan bahwa 8,3% dari mereka mengaku tidak menjawab dengan jujur, sementara 7,2% lainnya menyatakan percaya pada teori absurd tentang tentara rakun raksasa hasil rekayasa genetika milik Kanada.
Fenomena ini dikenal sebagai 'Lizardman constant', istilah yang dicetuskan oleh psikiater Alexander Scott pada 2013 setelah survei menunjukkan 4% warga Amerika percaya bahwa 'manusia kadal' menguasai dunia. Scott berargumen bahwa sebagian dari angka tersebut berasal dari responden yang iseng atau sengaja mengacaukan hasil survei. Studi ini mengonfirmasi bahwa gangguan semacam itu dapat mengaburkan data, terutama dalam topik yang tidak biasa seperti teori konspirasi.
Para peneliti menggunakan dua metode untuk mendeteksi ketidakjujuran. Pertama, mereka secara langsung menanyakan apakah responden pernah menjawab dengan tidak tulus. Kedua, mereka menyisipkan teori konspirasi yang sangat tidak masuk akal—tentang militer Kanada yang diam-diam mengembangkan pasukan rakun super cerdas untuk menyerang negara tetangga. Hasilnya, 7,2% responden menganggap teori itu mungkin atau pasti benar, angka yang jika diekstrapolasi setara dengan lebih dari 300.000 warga Selandia Baru dewasa.
Menariknya, responden yang mendukung teori konspirasi yang saling bertentangan—misalnya, menganggap COVID-19 sebagai mitos sekaligus percaya bahwa 5G menyebarkan virus—cenderung menunjukkan tanda-tanda menjawab dengan tidak serius. Hampir tiga perempat dari mereka terindikasi bercanda atau tidak jujur. Hal ini menunjukkan bahwa keyakinan pada teori yang kontradiktif mungkin lebih jarang terjadi daripada yang diperkirakan sebelumnya.
Meskipun demikian, penelitian ini tidak serta-merta menolak semua riset tentang teori konspirasi. Pola psikologis yang sudah mapan, seperti kecenderungan penganut teori konspirasi untuk melihat dunia sebagai tempat yang berbahaya, tetap bertahan bahkan setelah data yang tidak tulus dihilangkan. Para peneliti menegaskan bahwa riset tentang penyebab dan dampak keyakinan konspirasi tetap penting, terutama karena beberapa keyakinan dapat membahayakan.
Ke depan, para akademisi disarankan untuk menyertakan mekanisme deteksi ketidakjujuran dalam survei, seperti pertanyaan kontrol atau teori palsu yang konyol. Dengan demikian, data yang dihasilkan akan lebih akurat dan mencerminkan keyakinan sesungguhnya di masyarakat. Studi ini menjadi pengingat bahwa di balik angka-angka sensasional, selalu ada kemungkinan bahwa sebagian responden hanya 'iseng'—sebuah faktor yang tidak boleh diabaikan dalam interpretasi opini publik.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/7183244/original/002499300_1779979290-73e29194-e437-4c19-b7f9-036854c92468.jpg)


