Skandal Arca Palsu dari Solo yang Mengguncang Pasar Antik Belanda Abad ke-19
Baca dalam 60 detik
- Mas Bei Kertowidjojo, seorang pengrajin dari Surakarta, memproduksi arca perunggu palsu yang dijual sebagai artefak asli dari Kedu ke pasar Amsterdam pada 1854-1855.
- Pemalsuan ini terungkap setelah Direktur Museum van Oudheden Leiden, Conradus Leemans, mencurigai keaslian arca dan memicu investigasi kolonial yang mencatat praktik tersebut sebagai 'industri' pemalsuan.
- Kasus ini menyoroti penguasaan teknik metalurgi Jawa, seperti metode cire perdue, serta kemampuan Kertowidjojo membaca tren pasar kolonial, namun identitas dan motif pribadinya masih menjadi misteri.

Pada pertengahan abad ke-19, pasar barang antik di Amsterdam dibanjiri puluhan arca perunggu bergaya Jawa Kuno yang diklaim berasal dari penggalian di Karesidenan Kedu. Benda-benda itu diperdagangkan sebagai artefak asli era Hindu-Buddha, memicu demam koleksi di kalangan elite Eropa. Namun, di balik gemerlap transaksi, tersembunyi skandal besar: arca-arca tersebut ternyata buatan seorang pengrajin pribumi bernama Mas Bei Kertowidjojo dari Surakarta.
Kecurigaan pertama muncul dari Dr. Conradus Leemans, Direktur Museum van Oudheden di Leiden, yang mendeteksi kejanggalan pada arca-arca itu. Laporan investigasi pemerintah kolonial Hindia Belanda dalam Verslag van het beheer en den staat der Koloniën 1856 mengonfirmasi bahwa Kertowidjojo memproduksi arca palsu secara sistematis, bahkan disebut sebagai sebuah "industrie"—menunjukkan skala produksi yang terorganisir untuk menyuplai pasar Eropa. Kasus ini baru terkuak ke publik pada 1859 melalui surat kabar Java-Bode dan majalah seni Algemeene Konst- en Letter-bode, serta kemudian dicatat dalam jurnal ilmiah Bijdragen tot de Taal-, Land- en Volkenkunde pada 1864.
Kertowidjojo tidak hanya mengandalkan keterampilan teknis, tetapi juga pemahaman mendalam tentang pasar kolonial. Ia memanfaatkan reputasi Kedu sebagai "merek dagang" purbakala Jawa, yang saat itu sedang naik daun berkat publikasi ilmiah tentang Candi Borobudur oleh tokoh seperti Frans Carel Wilsen dan J.T.G. Brumund. Dengan mengklaim asal-usul dari Kedu, nilai jual arca buatannya melonjak drastis. Surat kabar Java-Bode bahkan menjulukinya "Simonides dari Jawa", merujuk pada pemalsu manuskrip terkenal asal Yunani, Konstantinos Simonides. Julukan ini mencerminkan pengakuan terhadap kecerdikannya, meski dibalut nada rasis kolonial yang menganggap kemampuan tersebut tidak lazim bagi "bangsa terjajah".
Hingga kini, jenis arca yang dipalsukan masih belum teridentifikasi secara spesifik. Arsip kolonial hanya menyebut "patung logam", sementara catatan Leemans belum ditemukan. Motif pribadi Kertowidjojo pun masih menjadi teka-teki. Gelar "Mas Bei" yang disandangnya mengindikasikan status priyayi atau kedekatan dengan elite Keraton Surakarta, yang mungkin memberinya akses terhadap pengetahuan kriya logam dan estetika Jawa klasik. Peneliti Belanda Caroline Drieënhuizen saat ini diketahui tengah menelusuri jejak sejarahnya, namun data biografis masih sangat terbatas.
Kasus ini meninggalkan warisan penting: ia membuktikan bahwa keahlian kriya Jawa mampu menandingi standar artistik yang pada masa itu dianggap milik Barat. Skandal pemalsuan arca dari Solo bukan sekadar catatan kelam kolonial, melainkan juga bukti kecerdasan lokal dalam membaca dan memanfaatkan dinamika pasar global abad ke-19.



