Geliat Ekspansi Perusahaan India ke Luar Negeri: Strategi Bisnis atau Sinyal Kelesuan Ekonomi Domestik?
Baca dalam 60 detik
- Nilai akuisisi perusahaan India terhadap aset luar negeri pada 2025 melonjak 34% menjadi lebih dari 18 miliar dolar AS, dipicu oleh kebutuhan strategis dan diversifikasi rantai pasok.
- Berbeda dengan gelombang akuisisi dua dekade lalu yang didorong ambisi global, ekspansi saat ini lebih berfokus pada akses teknologi, merek, dan jaringan distribusi yang sulit dibangun secara organik.
- Fenomena ini terjadi di tengah pelemahan investasi swasta domestik dan eksodus investor asing, menimbulkan pertanyaan tentang daya tarik iklim bisnis India dalam jangka panjang.

Sepanjang tahun 2025, perusahaan-perusahaan India tercatat gencar memburu aset di luar negeri. Salah satu yang paling mencolok adalah akuisisi Organon & Co., perusahaan kesehatan wanita dan biosimilar yang terdaftar di New York, oleh Sun Pharmaceuticals senilai 11,75 miliar dolar AS. Langkah ini menjadi akuisisi lintas batas terbesar yang dilakukan korporasi India dalam hampir dua dekade terakhir, menandai babak baru strategi ekspansi global yang lebih agresif.
Data dari konsultan Grant Thornton menunjukkan bahwa 162 perusahaan India telah menghabiskan lebih dari 18 miliar dolar AS untuk akuisisi di luar negeri sepanjang 2025, meningkat 34% dibanding tahun sebelumnya. Sumeet Abrol, partner dan national leader Grant Thornton, memperkirakan nilai kesepakatan pada semester pertama tahun ini saja bisa menembus 15 miliar dolar AS. Beberapa transaksi besar lainnya termasuk akuisisi Iveco oleh Tata Motors senilai 4,4 miliar dolar AS, pembelian perusahaan AI Encora oleh Coforge sebesar 2,35 miliar dolar AS, serta pembelian saham 23% di Allianz SE oleh Bajaj Group.
Analis menilai motivasi di balik gelombang akuisisi kali ini berbeda dengan era 2000-an, ketika Tata Group memburu aset ikonik seperti Jaguar Land Rover dan Corus Steel. Kini, perusahaan India lebih terdorong oleh kebutuhan strategis dan operasional, bukan sekadar gengsi global. Neha Singh, salah satu pendiri Tracxn, menjelaskan bahwa perusahaan India ingin mengakses pasar, merek, kapabilitas teknologi, serta jaringan distribusi yang sudah mapan di luar negeri—sesuatu yang membutuhkan waktu bertahun-tahun jika dibangun dari awal.
Faktor lain yang mendorong percepatan akuisisi adalah upaya mengamankan rantai pasok di tengah meningkatnya penggunaan hambatan perdagangan dan tarif sebagai senjata geopolitik. Namun, para pengamat juga menyoroti sisi gelap dari tren ini. India saat ini menghadapi arus keluar investor portofolio asing, perlambatan investasi langsung asing (FDI), dan lemahnya investasi swasta meskipun pemerintah telah memberikan insentif pajak dan subsidi produksi. Kepala Penasihat Ekonomi India, V. Anantha Nageswaran, mengakui bahwa meskipun laba perusahaan 500 besar tumbuh 30,8% per tahun pasca-Covid, tingkat pembentukan modal swasta masih mengecewakan.
“Banyak uang India mengalir ke luar negeri. Bahkan perusahaan dalam portofolio kami banyak yang mendirikan pabrik baru di AS dan tempat lain, di mana lahan industri hampir gratis dan akses modal kerja jauh lebih mudah dibandingkan di sini,” ujar Saurabh Mukherjea dari Marcellus Investment Managers.
Mukherjea menambahkan bahwa tidak hanya perusahaan besar, puluhan perusahaan kecil juga melakukan investasi serupa. Namun, ia memperingatkan bahwa akuisisi luar negeri bisa menjadi bumerang, seperti yang dialami Tata Steel dengan Corus Steel yang menjadi beban selama bertahun-tahun. Selain itu, sebagian besar transaksi masih dibayar tunai, termasuk akuisisi Sun Pharma yang bernilai miliaran dolar, sehingga meningkatkan risiko finansial.
Ke depan, gelombang akuisisi diperkirakan akan terus berlanjut, didorong oleh kesepakatan perdagangan bebas India dengan Inggris, Eropa, Australia, dan negara lain. Mukherjea meramalkan akan terjadi “banjir kesepakatan keluar” dari India. Namun, tren ini juga menimbulkan kekhawatiran tentang dampaknya terhadap investasi domestik. Neha Singh memperkirakan ekspansi ke luar negeri akan dibarengi dengan “kehati-hatian selektif” terhadap investasi besar di dalam negeri.
India masih terjebak dalam siklus permintaan lemah dan investasi swasta yang lesu, diperparah oleh guncangan energi global dan risiko yang ditimbulkan oleh kecerdasan buatan terhadap pasar tenaga kerja. Sumeet Abrol dari Grant Thornton menyebut ketidakpastian geopolitik saat ini sebagai “kantong udara” yang dapat mempengaruhi apakah India akan melampaui angka 18 miliar dolar AS tahun lalu. Meski demikian, para ahli sepakat bahwa arah jangka panjang sudah jelas: perusahaan India akan semakin melakukan lindung nilai terhadap ketidakpastian ekonomi di negara dengan ekonomi terbesar ketiga di Asia ini, sementara pemerintah berupaya keras menahan arus keluar dolar dan menarik modal asing untuk menghidupkan kembali mesin pertumbuhan domestik.



