Josip Stanišić Ungkap Resep Sukses Bayern Munich: Mentalitas Juara dan Kepemimpinan Vincent Kompany
Baca dalam 60 detik
- Josip Stanišić mencatatkan rekor lima gelar Bundesliga beruntun bersama Bayern Munich, namun ia mengakui bahwa pencapaian terbesarnya justru saat membawa tim lain juara di luar dugaan.
- Di bawah arahan Vincent Kompany, peran bek sayap Bayern mengalami transformasi dengan tuntutan mobilitas tinggi dan kontribusi ofensif yang lebih besar, menghasilkan rekor gol impresif.
- Menjelang Piala Dunia 2026, Stanišić optimistis dengan peluang Kroasia meski menyadari tekanan tinggi setelah sukses di dua turnamen sebelumnya, menekankan pentingnya kebersamaan tim.

Josip Stanišić, bek serba bisa Bayern Munich, baru saja mengukir sejarah dengan meraih gelar Bundesliga kelima secara berturut-turut setelah keberhasilan timnya pada musim 2025/26. Dalam wawancara eksklusif, pemain berdarah Kroasia itu membeberkan filosofi di balik dominasi Bayern, perubahan peran bek sayap di era Vincent Kompany, serta pandangannya menjelang Piala Dunia 2026.
Menariknya, Stanišić menempatkan gelar musim ini sebagai yang ketiga terpenting dalam kariernya. "Gelar pertama adalah yang terbaik. Yang kedua justru bukan bersama Bayern, melainkan saat saya membawa tim lain juara karena tidak ada yang menduga," ujarnya. Ia memuji konsistensi Bayern yang memecahkan banyak rekor musim ini, menekankan bahwa kemampuan mempertahankan performa tinggi sepanjang musim adalah pencapaian yang luar biasa.
Mentalitas "tidak pernah puas" menjadi kunci kesuksesan Bayern. Stanišić menegaskan bahwa begitu satu gelar diraih, seluruh tim langsung berfokus pada target berikutnya. "Kami memiliki pemain bintang, tetapi mereka tetap bekerja keras di lapangan. Tidak pernah ada momen di musim ini di mana pemain mana pun memberikan kurang dari 100 persen," tegasnya. Kebersamaan dan tujuan yang sama, menurutnya, menjadi fondasi utama kekuatan tim.
Perubahan taktis di bawah Vincent Kompany turut mengubah peran Stanišić. Ia mengakui tuntutan berlari lebih banyak dan terlibat aktif di sepertiga akhir lapangan. "Kami memainkan peran besar dalam membangun serangan. Meski tugas utama kami bertahan, membantu para penyerang mencetak gol adalah bonus," jelasnya. Stanišić memuji pendekatan Kompany yang tidak pernah setengah-setengah, baik dalam persiapan maupun analisis lawan, tanpa membedakan tim besar atau kecil.
"Dia adalah pemimpin yang hebat. Cara dia mempersiapkan kami dan menganalisis setiap lawan, bukan hanya klub besar, sungguh luar biasa. Dia menetapkan standar untuk tidak menurunkan intensitas, bahkan saat menghadapi jadwal padat." — Josip Stanišić tentang Vincent Kompany
Kehadiran Manuel Neuer di bawah mistar juga menjadi faktor penting. Stanišić menyebut aura Neuer memberikan rasa aman bagi lini belakang. Ia juga memuji perkembangan Jonas Urbig yang menunjukkan kemajuan pesat, serta kontribusi Sven Ulreich yang menyelamatkan poin krusial melawan Bayer Leverkusen.
Menatap Piala Dunia 2026, Stanišić optimistis namun realistis. "Kami tidak bisa menetapkan standar setinggi dua turnamen terakhir. Kami akan menjalani pertandingan demi pertandingan, memberikan segalanya. Keberuntungan juga diperlukan, tetapi yang terpenting adalah kekuatan kami sebagai kelompok," pungkasnya. Kroasia, yang tampil gemilang di 2018 dan 2022, tetap dianggap sebagai ancaman serius di panggung global.



