MLSC Seri 2 2025/2026: Fondasi Pembinaan Sepak Bola Putri Kudus Semakin Kokoh, Malang Tunjukkan Lonjakan Kualitas
Baca dalam 60 detik
- MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 2025/2026 di Kudus dan Malang sukses digelar, dengan Kudus menunjukkan pembinaan matang dan Malang mencatat peningkatan partisipasi serta performa.
- Program Director Teddy Tjahjono menekankan konsistensi kompetisi sebagai kunci melahirkan bibit atlet putri, sementara Pelatih Kepala Timo Scheunemann menyoroti pentingnya latihan berkelanjutan dan kecintaan pada olahraga.
- Para juara di Kudus (MI NU Baitul Mukminin KU-10, SDN Jambean 02 Pati KU-12) dan Malang (SDN Lowokwaru 3 KU-10, SDN Tulungrejo 02 KU-12) menunjukkan peningkatan kualitas permainan yang signifikan.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6915000/original/047676900_1779685610-FOTO_5__14_.jpg)
MilkLife Soccer Challenge (MLSC) Seri 2 musim 2025/2026 sukses menuntaskan rangkaian pertandingan di dua kota, yakni Kudus dan Malang, pada Minggu (24/5/2026). Ajang sepak bola putri usia dini ini tidak hanya melahirkan juara baru, tetapi juga menjadi barometer perkembangan pembinaan di tingkat akar rumput. Kudus, sebagai kota perdana penyelenggaraan, kembali membuktikan fondasi pembinaannya yang kian solid, sementara Malang menunjukkan grafik peningkatan yang signifikan, baik dari jumlah peserta maupun kualitas permainan.
Program Director MLSC, Teddy Tjahjono, menegaskan bahwa penyelenggaraan seri kedua ini merupakan wujud komitmen jangka panjang MilkLife dan Djarum Foundation dalam membangun ekosistem sepak bola putri Indonesia. Menurutnya, konsistensi kompetisi menjadi faktor krusial untuk mencetak atlet berkualitas di masa depan. “MilkLife Soccer Challenge kini memasuki tahun ketiga dan secara kualitas terus menunjukkan perkembangan konsisten. Jenjang berikutnya adalah Hydroplus Soccer League, dan antusiasme peserta terus meningkat dari seri ke seri,” ujar Teddy. Ia optimistis bahwa kompetisi berjenjang ini mampu menjadi wadah efektif untuk melahirkan talenta-talenta potensial.
Pelatih Kepala MLSC 2025/2026, Timo Scheunemann, menambahkan bahwa proses seleksi tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis. Ia menekankan pentingnya konsistensi latihan dan kecintaan siswi terhadap sepak bola sebagai fondasi utama. “Prestasi itu penting, tapi yang tidak kalah penting adalah konsistensi para siswi dalam latihan. Ketika kemampuan mereka meningkat, mereka akan semakin senang bermain sepak bola. Dari situ, baru digali potensi dan bakatnya,” jelas Timo. Ia juga menyoroti peran sekolah dalam menyisipkan nilai-nilai pengembangan mental dan karakter yang sejalan dengan pendidikan formal.
Timo mengapresiasi perkembangan di kedua kota. Kudus, yang menjadi pionir MLSC, dinilai telah memiliki fondasi pembinaan yang matang. Sementara Malang, yang baru dua kali menggelar kompetisi, menunjukkan peningkatan pesat dari segi jumlah peserta dan kualitas pemain. Tim pelatih bahkan aktif mendatangi sekolah-sekolah untuk mendorong partisipasi. “Pemain yang tampil di final KU-12 Malang diproyeksikan memperkuat tim All-Star Malang untuk tampil di Kudus pada akhir Juni bersama perwakilan 12 kota lainnya,” ungkap Timo, menandai adanya program pengembangan lintas kota.
Pertandingan final di kedua kota berlangsung sengit. Di Kudus, MI NU Baitul Mukminin menaklukkan MI NU Pendidikan Islam dengan skor 4-1 di kategori KU-10, sementara SDN Jambean 02 Pati merebut gelar KU-12 setelah mengalahkan juara bertahan SDUT Bumi Kartini Jepara melalui skor 6-5. Di Malang, SDN Lowokwaru 3 tampil dominan di KU-10 dengan kemenangan 3-0 atas SDN Pandanlandung, sedangkan SDN Tulungrejo 02 sukses mengamankan gelar KU-12 usai menundukkan SDN Tunjungsekar 3 dengan skor 3-1.
Keberhasilan MLSC Seri 2 ini menegaskan bahwa pembinaan sepak bola putri usia dini di Indonesia berada di jalur yang tepat. Dengan konsistensi penyelenggaraan dan dukungan dari berbagai pihak, ajang ini diharapkan terus menjadi katalis bagi lahirnya generasi pemain sepak bola putri yang kompetitif, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.



