Derbi Turin Berlangsung Sengit di Luar Lapangan: Suporter Juventus Tinggalkan Stadion
Baca dalam 60 detik
- Pertandingan Torino vs Juventus diundur satu jam setelah protes suporter Juventus yang menolak laga digelar sebagai bentuk solidaritas terhadap suporter yang dirawat kritis.
- Suporter Juventus mengancam akan menyerbu lapangan jika pertandingan tetap berlangsung, namun akhirnya memilih meninggalkan tribun tandang.
- Sebagian suporter Torino juga ikut meninggalkan stadion karena menilai laga seharusnya tidak digelar dalam situasi tegang tersebut.

Derbi Turin antara Torino dan Juventus akhirnya tetap digelar pada Jumat malam, meskipun diwarnai protes keras dari kelompok suporter. Pertandingan yang semula dijadwalkan pukul 20:45 CET resmi diundur satu jam menjadi 21:45 CET setelah suporter Juventus (Bianconeri) menyatakan penolakan terhadap pelaksanaan laga. Aksi ini dipicu oleh insiden bentrokan antar suporter sebelum pertandingan yang mengakibatkan seorang penggemar Juventus dirawat dalam kondisi kritis di rumah sakit.
Ketegangan sudah terasa sejak sore hari ketika kelompok suporter Juventus mengancam akan menyerbu lapangan jika pertandingan tetap dilanjutkan. Ancaman tersebut mendorong pihak keamanan dan penyelenggara untuk melakukan negosiasi. Meski akhirnya laga diputuskan tetap berlangsung, suporter Juventus memilih meninggalkan tribun tandang sebagai bentuk protes. Tak hanya itu, sebagian suporter Torino juga ikut angkat kaki dari stadion setelah para pemain memasuki lapangan, karena mereka menilai pertandingan tidak layak digelar dalam suasana yang mencekam.
Para pemain dari kedua tim sempat keluar dari lorong pemain untuk melakukan pemanasan, namun kemudian kembali ke ruang ganti setelah mengetahui situasi di tribun. Keputusan untuk menunda kick-off diambil setelah koordinasi antara otoritas keamanan, perwakilan klub, dan federasi. Meski demikian, laga tetap dilanjutkan dengan pengamanan ekstra, termasuk peningkatan jumlah personel polisi di dalam dan luar stadion.
Fenomena ini bukanlah yang pertama kali terjadi di sepak bola Italia. Aksi protes suporter seringkali menjadi alat negosiasi terhadap kebijakan klub atau federasi. Namun, insiden kali ini memiliki bobot lebih karena berkaitan dengan keselamatan nyawa. Suporter yang dirawat kritis akibat bentrokan menjadi pengingat bahwa rivalitas sepak bola bisa berujung pada tragedi jika tidak dikelola dengan baik.
Ke depan, pihak berwenang dan klub perlu mengevaluasi kembali prosedur keamanan, terutama dalam pertandingan derbi yang sarat emosi. Dialog dengan kelompok suporter juga harus diperkuat untuk mencegah eskalasi konflik serupa. Sepak bola seharusnya menjadi ajang persaingan sportif, bukan medan pertarungan antar kelompok yang mengancam keselamatan publik.



