Rupiah Mengawali Pekan dengan Apresiasi Tipis, Dolar AS Tertekan Sentimen Negosiasi Iran
Baca dalam 60 detik
- Nilai tukar rupiah dibuka menguat 0,06% ke Rp17.680 per dolar AS pada Senin (25/5), membalikkan pelemahan akhir pekan lalu.
- Indeks dolar AS (DXY) turun 0,26% ke 98,981 seiring harapan progres negosiasi AS-Iran yang menekan greenback.
- Pemerintah mengandalkan aturan baru DHE SDA dan intervensi obligasi Rp2,2 triliun untuk mendorong rupiah ke target Rp15.000/US$.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuka perdagangan awal pekan ini dengan penguatan tipis. Berdasarkan data Refinitif, mata uang Garuda tercatat menguat 0,06% ke level Rp17.680 per dolar AS pada Senin (25/5/2026). Pergerakan ini membalikkan posisi penutupan akhir pekan lalu yang melemah 0,28% ke Rp17.690 per dolar AS.
Pelemahan dolar AS menjadi katalis utama di balik apresiasi rupiah. Indeks dolar AS (DXY) yang mengukur kekuatan greenback terhadap enam mata uang utama dunia terpantau turun 0,26% ke level 98,981 pada pukul 09.00 WIB. Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah optimisme pasar bahwa negosiasi antara AS dan Iran mulai menunjukkan perkembangan. Meskipun pemerintahan Presiden Donald Trump masih meredam ekspektasi kesepakatan cepat, sentimen ini cukup mendorong harga minyak mentah turun di bawah US$100 per barel dan menekan greenback.
Dari sisi domestik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan komitmennya untuk mendorong penguatan rupiah menuju level Rp15.000 per dolar AS. Dalam pernyataannya, ia mengindikasikan akan mengumumkan langkah baru pekan ini. Salah satu instrumen yang diandalkan adalah penerapan aturan baru Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) yang mulai berlaku 1 Juni 2026. Regulasi ini bertujuan menahan lebih banyak devisa dari ekspor komoditas seperti batu bara dan CPO di dalam negeri, sehingga memperkuat pasokan valas.
Selain kebijakan DHE, pemerintah juga gencar melakukan stabilisasi melalui intervensi di pasar obligasi. Sepanjang pekan lalu, pemerintah tercatat membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder senilai Rp2,2 triliun. Langkah ini diambil untuk menjaga imbal hasil (yield) obligasi tetap stabil di tengah arus keluar modal asing yang masih berlangsung.
Ke depan, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan negosiasi AS-Iran serta efektivitas kebijakan domestik dalam mengerek kepercayaan pasar. Target ambisius Rp15.000 per dolar AS membutuhkan konsistensi intervensi dan kepastian regulasi agar aliran modal asing kembali deras masuk ke Indonesia.



