Perjanjian Damai Trump-Iran Dinilai Ancam Ambisi Netanyahu di Timur Tengah
Baca dalam 60 detik
- Ketiadaan kemenangan telak Israel dalam konflik melawan Iran disebut sebagai pemicu menurunnya kepercayaan Trump terhadap Netanyahu.
- Nota kesepahaman antara AS dan Iran memicu perdebatan sengit di media sosial antara penasihat Gedung Putih dan sekutu Republik Israel.
- Mantan Menlu AS Mike Pompeo mengecam perjanjian tersebut dengan menyebutnya sebagai pendanaan bagi program senjata pemusnah massal Iran.

Kepercayaan mantan Presiden AS Donald Trump terhadap Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dilaporkan mulai goyah. Penyebabnya adalah kegagalan Israel meraih kemenangan mutlak dalam perang melawan Iran, yang kemudian mendorong Trump untuk menyusun rancangan perjanjian damai dengan Teheran. Langkah ini dinilai mengancam rencana strategis Netanyahu di kawasan Timur Tengah.
Pengumuman rancangan perjanjian tersebut muncul setelah serangkaian komunikasi antara Trump dengan sejumlah pemimpin negara Arab dan Islam. Isinya langsung memicu perang pernyataan di platform media sosial antara para penasihat Gedung Putih dan sekutu-sekutu utama Netanyahu dari Partai Republik. Ketegangan ini menunjukkan adanya perpecahan serius dalam kubu pro-Israel di AS.
Mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo termasuk salah satu kritikus paling vokal. Ia menyamakan nota kesepahaman (MOU) antara AS dan Iran dengan tindakan membayar Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) untuk mengembangkan program senjata pemusnah massal dan meneror dunia. Kritik keras ini mencerminkan kekhawatiran bahwa perjanjian tersebut dapat mengancam keamanan regional.
Para analis menilai bahwa sikap Trump yang mulai menjauh dari Netanyahu merupakan sinyal perubahan peta politik Timur Tengah. Jika perjanjian damai dengan Iran benar-benar terwujud, Israel harus menghadapi realitas baru di mana pengaruhnya mungkin berkurang. Langkah Trump juga bisa menjadi upaya untuk membangun warisan diplomatik menjelang pemilu mendatang.
Ke depan, perkembangan ini akan menjadi ujian bagi hubungan AS-Israel serta dinamika kekuasaan di Timur Tengah. Netanyahu kini berada di persimpangan: apakah akan tetap bertahan dengan strategi konfrontatif atau menyesuaikan diri dengan realitas baru yang digagas oleh mantan sekutunya.



