Gubernur Okinawa Terima Ancaman Pembunuhan Jelang Pertemuan Pendukung
Baca dalam 60 detik
- Gubernur Okinawa Denny Tamaki mengungkapkan telah menerima ancaman pembunuhan melalui pesan yang dikirim ke lokasi pertemuan pendukungnya.
- Ancaman tersebut dikaitkan dengan penentangannya terhadap rencana pemindahan pangkalan militer AS di Henoko serta pencalonannya kembali pada pemilu September mendatang.
- Pesan itu juga menargetkan kapten kapal yang terlibat dalam kecelakaan fatal Maret lalu, menambah ketegangan politik di prefektur tersebut.

Gubernur Okinawa, Denny Tamaki, mengonfirmasi bahwa ia menerima ancaman pembunuhan menjelang pertemuan dengan para pendukungnya yang digelar di ibu kota prefektur pada hari Minggu. Pernyataan ini disampaikan Tamaki kepada wartawan usai acara, seraya menegaskan bahwa pihak berwenang telah mengambil langkah pengamanan ketat untuk melindungi warga.
Menurut sumber yang mengetahui masalah ini, pesan ancaman dikirim ke lokasi pertemuan pada hari Jumat. Isinya menyatakan bahwa pengirim akan datang ke acara tersebut untuk “membunuh Denny Tamaki yang akan maju (dalam pemilihan gubernur September) dengan menyembunyikan hubungannya dengan Partai Komunis Jepang.” Tamaki, yang dikenal vokal menentang rencana pemindahan pangkalan militer AS di Okinawa, telah mengumumkan niatnya untuk mencalonkan diri kembali untuk masa jabatan ketiga.
Selain menargetkan gubernur, ancaman tersebut juga menyasar kapten kapal yang terlibat dalam kecelakaan fatal pada Maret lalu di perairan Henoko. Kecelakaan itu terjadi ketika dua kapal yang membawa siswa sekolah menengah dalam perjalanan “pendidikan perdamaian” untuk melihat konstruksi pemindahan pangkalan terbalik, menewaskan seorang siswa berusia 17 tahun dan kapten kapal berusia 71 tahun. Insiden ini semakin memperkeruh suasana politik dan sosial di prefektur tersebut.
Tamaki menekankan bahwa langkah-langkah keamanan telah dilakukan secara menyeluruh untuk memastikan tidak ada warga yang dirugikan. “Tindakan pengamanan ketat telah diambil agar tidak ada celah yang membahayakan keselamatan warga prefektur,” ujarnya. Meskipun demikian, ancaman ini menyoroti meningkatnya polarisasi dan risiko kekerasan dalam dinamika politik lokal.
Ke depan, situasi ini diperkirakan akan mempengaruhi kampanye pemilihan gubernur yang akan datang, dengan isu keamanan dan pangkalan militer AS menjadi sorotan utama. Tamaki dan aparat keamanan kemungkinan akan meningkatkan kewaspadaan, sementara masyarakat menanti perkembangan lebih lanjut terkait penyelidikan ancaman tersebut.



