Ketegangan di Balik Kemenangan: Xabi Alonso vs Para Bintang Real Madrid
Baca dalam 60 detik
- Xabi Alonso menerapkan disiplin ketat dan aturan baru di ruang ganti Real Madrid, memicu ketidakpuasan di antara pemain senior yang terbiasa dengan pendekatan longgar Carlo Ancelotti.
- Kemenangan atas Barcelona dan Juventus meredakan tekanan pada Alonso, namun friksi internal masih membayangi, terutama terkait gaya kepelatihan yang dianggap kaku dan membatasi kebebasan berekspresi.
- Hubungan Alonso dengan pemain seperti Vinicius Junior menjadi sorotan, namun keberhasilan mengintegrasikan pemain muda dan performa impresif Kylian Mbappe menjadi nilai tambah di tengah gejolak.

Kemenangan Real Madrid atas Barcelona di akhir pekan lalu bukan sekadar tiga poin di klasemen La Liga. Bagi Xabi Alonso, hasil tersebut menjadi penawar tekanan yang menggunung setelah kekalahan memalukan 5-2 dari Atletico Madrid sebulan sebelumnya. Namun, di balik hasil positif itu, tersimpan kisah ketegangan yang makin memanas antara pelatih asal Spanyol tersebut dengan sejumlah pilar tim.
Sejak menggantikan Carlo Ancelotti pada Juni lalu, Alonso langsung menggebrak dengan sejumlah perubahan drastis. Sumber internal menyebutkan bahwa ia menemukan "kebiasaan buruk" yang sudah mengakar di ruang ganti. Mantan gelandang Liverpool dan Bayern Munchen itu menuntut etos kerja lebih tinggi saat bertahan, menerapkan aturan ketat soal ketepatan waktu, serta mengintensifkan sesi latihan individu dan video. Pendekatan ini kontras dengan gaya Ancelotti yang lebih longgar dan dekat dengan pemain.
Perubahan tersebut tidak diterima dengan lapang dada oleh semua pihak. Beberapa sumber yang dekat dengan pemain inti mengungkapkan rasa frustrasi karena merasa kebebasan berekspresi di lapangan menjadi terbatas. "Mereka sudah memenangkan banyak hal tanpa harus melakukan semua ini, jadi ketika aturan baru dipaksakan, mereka mengeluh," ujar seorang sumber. Bahkan, ada yang menyebut Alonso "berjarak dan sulit didekati", berbeda dengan Ancelotti yang sangat populer. Seorang individu dekat pemain senior bahkan melontarkan sindiran, "Dia pikir dia Pep Guardiola, tapi untuk sekarang dia hanya Xabi."
Ketegangan mencapai puncak saat Vinicius Junior menunjukkan reaksi emosional ketika ditarik keluar dalam laga kontra Barcelona. Namun, insiden itu hanyalah puncak gunung es. Alonso juga membatasi akses kerabat pemain ke area latihan, mengurangi jumlah staf yang hadir di ruang ganti saat pertandingan, dan menuntut kerahasiaan ketat—sebuah respons terhadap kebiasaan bocornya susunan pemain ke media. Uji coba pertama Alonso dengan memberi tahu starting XI lebih awal justru gagal karena nama Gonzalo Garcia tetap tersebar.
Di sisi lain, staf kepelatihan Alonso—termasuk asisten Sebastian Parrilla, pelatih fisik Ismael Camenforte, dan para analis—mendapat pujian dari klub. Metodologi Camenforte yang sempat bekerja di Barcelona disebut sebagai kejutan bagi para spesialis yang sudah ada. Alonso sendiri sadar bahwa proses transformasi membutuhkan kesabaran, dan hasil positif di lapangan menjadi modal untuk meredam kritik.
Ke depan, hubungan Alonso dengan para pemainnya akan terus menjadi sub-plot yang menarik. Jika hasil dan performa terus membaik, Alonso tampaknya tidak akan terlalu peduli dengan momen ketidakharmonisan. Namun, tekanan di Bernabeu tidak pernah surut, dan setiap langkahnya akan terus diawasi.



