Direktur Persis Solo Minta Maaf Usai Degradasi: Kekecewaan Suporter Jadi Cermin Kegagalan Manajemen
Baca dalam 60 detik
- Persis Solo resmi terdegradasi ke kasta kedua setelah hanya mampu finis di peringkat 16 BRI Super League 2025/2026 dengan 34 poin, meski menang 3-1 atas Persita di laga pamungkas.
- Direktur PT Persis Solo Saestu, Ginda Ferachtriawan, secara terbuka meminta maaf kepada suporter dan mengakui bahwa hasil ini merupakan cerminan kegagalan manajemen dalam memenuhi ekspektasi.
- Ginda berkomitmen melakukan evaluasi besar-besaran dan menjadikan kekecewaan sebagai bahan bakar untuk membawa Laskar Sambernyawa kembali ke kasta tertinggi.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5565231/original/003227000_1777015754-persis_2.jpg)
Direktur PT Persis Solo Saestu, Ginda Ferachtriawan, menyampaikan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh pendukung setelah tim kebanggaan Kota Solo itu dipastikan terdegradasi dari BRI Super League 2025/2026. Meskipun berhasil mengalahkan Persita Tangerang dengan skor 3-1 pada laga pekan ke-34 di Stadion Indomilk Arena, Sabtu (23/5/2026), hasil tersebut tidak cukup untuk menyelamatkan posisi Laskar Sambernyawa dari zona merah.
Persis Solo mengakhiri musim di peringkat ke-16 klasemen dengan koleksi 34 poin, menyusul Semen Padang dan PSBS Biak yang lebih dulu dipastikan turun kasta. Posisi tersebut membuat Persis harus rela meninggalkan kompetisi kasta tertinggi setelah musim yang penuh perjuangan. Ginda mengakui bahwa degradasi ini merupakan pukulan telak bagi seluruh elemen klub, terutama para suporter yang setia mendukung tim.
“Hari ini adalah hari yang berat bagi kita semua. Sebagai Direktur, saya berdiri di sini dengan penyesalan mendalam dan permohonan maaf yang setulus-tulusnya kepada seluruh suporter yang telah memberikan segalanya untuk tim ini,” ujar Ginda dalam keterangan resmi, Minggu (24/5/2026). Ia menambahkan bahwa kekecewaan yang dirasakan oleh para penggemar adalah cerminan nyata dari kegagalan manajemen dalam memenuhi ekspektasi dan menjaga kebanggaan kota.
Ginda tidak menampik besarnya kekecewaan yang menghantui para pendukung. Namun, ia berharap rasa sakit tersebut dapat diubah menjadi motivasi untuk bangkit kembali. “Saya tidak meminta kalian untuk melupakan rasa sakit ini—simpanlah, dan jadikan itu bahan bakar bagi kita semua untuk kembali ke tempat yang seharusnya,” tegasnya. Ia juga menekankan keyakinannya terhadap loyalitas dan kontribusi suporter yang tidak pernah diragukan, terutama di saat badai seperti ini.
Dalam laga melawan Persita, Persis unggul melalui gol Jefferson de Souza (43’) dan Miroslav Maricic (73’), sementara gol balasan Persita dicetak Pablo Ganet (90’). Di sisi lain, hasil pertandingan lain yang berlangsung bersamaan, yaitu kemenangan Madura United atas PSM Makassar dengan skor 2-0, turut memastikan nasib Persis tak berubah. Madura United yang sebelumnya berada di zona degradasi berhasil naik ke peringkat 14 dengan 35 poin, meninggalkan Persis di dasar klasemen.
Ginda menyatakan komitmen untuk melakukan evaluasi besar-besaran setelah degradasi ini. Evaluasi tersebut akan menjadi landasan bagi Persis Solo untuk berbenah dan menatap musim depan dengan lebih mantap. “Sampai saat ini saya tidak pernah meragukan loyalitas serta kontribusi kalian kepada Sambernyawa, dan pada saat badai datang seperti ini saya yakin akan menjadi momen bagi kita semua untuk kembali merekatkan barisan menjadi lebih kuat,” pungkasnya.
Degradasi Persis Solo menjadi pengingat bahwa persaingan di BRI Super League sangat ketat, di mana setiap poin dan hasil head-to-head bisa menentukan nasib. Ke depan, fokus utama Persis adalah membangun kembali tim yang kompetitif untuk segera kembali ke kasta tertinggi, dengan harapan suporter tetap setia mendampingi perjalanan tersebut.



