Literasi Asuransi Naik, Tapi Minat Beli Masih Rendah: AAJI Ungkap Kesenjangan
Baca dalam 60 detik
- Literasi asuransi di Indonesia naik dari 36% (2024) menjadi 45% (2026), namun inklusi hanya 28%, menunjukkan celah antara pemahaman dan aksi.
- Tingkat penetrasi asuransi Indonesia 2,7% pada 2025, tertinggal dari Singapura, Malaysia, dan negara ASEAN lain, menurut data OJK.
- Generasi muda enggan membeli asuransi karena istilah rumit dan preferensi pada investasi berimbal hasil, seperti saham.

Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melaporkan peningkatan signifikan dalam literasi asuransi masyarakat, namun angka inklusi masih jauh tertinggal. Ketua Bidang Kerja Sama Antar Lembaga, Regulator, Stakeholder Dalam Negeri & Internasional AAJI, Handojo G Kusuma, mengungkapkan bahwa kesadaran akan produk asuransi kini mencapai 45%, naik dari 36% pada tahun 2024. Meski demikian, hanya 28% masyarakat yang benar-benar memiliki polis asuransi.
Fenomena ini menjadi sorotan dalam Educational Class Jogja Financial Festival 2026 di Yogyakarta, Sabtu (23/5/2026). Handojo menjelaskan bahwa pemahaman masyarakat terhadap asuransi memang membaik, tetapi belum diikuti dengan keputusan pembelian. "Orang paham mengenai asuransi tapi orang mau beli asuransi, ah nanti dulu," ujarnya, menggambarkan sikap menunda yang umum terjadi.
Kesenjangan antara literasi dan inklusi ini menjadi perhatian serius bagi industri. Handojo menekankan konsep gotong royong dalam asuransi, di mana premi yang terkumpul digunakan untuk membantu peserta lain yang mengalami musibah. Ia juga menyoroti pentingnya memiliki asuransi sejak muda karena premi lebih murah dan risiko lebih mudah diterima. "Kalau pencari nafkah sakit atau tidak bisa bekerja, maka satu keluarga akan terpengaruh secara finansial. Untuk itulah asuransi menjadi penting," tegasnya.
Dalam sesi diskusi, sejumlah pelajar mengungkapkan alasan generasi muda enggan membeli asuransi. Istilah asuransi dianggap rumit, dan banyak anak muda lebih memilih instrumen investasi seperti saham yang memberikan imbal hasil langsung. Hal ini menunjukkan perlunya edukasi yang lebih relevan dengan kebutuhan generasi milenial dan Gen Z.
Ke depan, AAJI dan regulator diharapkan dapat merancang strategi untuk menjembatani kesenjangan ini. Pendekatan yang lebih personal dan digital, serta penyederhanaan produk, bisa menjadi kunci untuk meningkatkan inklusi asuransi di Indonesia.



