Kesepakatan AS-Iran di Ambang Pintu: Trump Minta Negosiasi Tidak Terburu-Buru
Baca dalam 60 detik
- Washington dan Teheran dilaporkan hampir mencapai kesepakatan yang mencakup penghentian perang, pembukaan kembali Selat Hormuz, serta penyerahan stok uranium yang diperkaya tinggi oleh Iran.
- Presiden Trump menekankan agar negosiasi tidak terburu-buru, meskipun ia mengakui hubungan dengan Iran menjadi lebih profesional dan produktif.
- Kesepakatan ini berpotensi meredakan krisis energi global akibat penutupan Selat Hormuz, namun masih terdapat keraguan mengingat kegagalan negosiasi serupa sebelumnya.

Washington dan Teheran dilaporkan berada di ambang kesepakatan yang dapat mengakhiri konflik bersenjata, membuka kembali Selat Hormuz, serta menyerahkan stok uranium yang diperkaya tinggi milik Iran. Informasi ini disampaikan oleh sejumlah pejabat regional kepada Associated Press pada Minggu (25/5/2025), meskipun Presiden AS Donald Trump menginstruksikan perwakilannya untuk tidak terburu-buru dalam menyelesaikan perjanjian.
Trump menyatakan bahwa negosiasi berlangsung secara tertib dan konstruktif, serta hubungan dengan Iran menjadi jauh lebih profesional dan produktif. Ia juga menepis kritik dari sesama anggota Partai Republik yang menginginkan pendekatan lebih keras terhadap Teheran. Namun, sumber yang mengetahui status negosiasi menegaskan bahwa kesepakatan tidak akan ditandatangani pada hari Minggu, dan kedua belah pihak sebelumnya beberapa kali tampak hampir mencapai kata sepakat sebelum akhirnya gagal.
Pembukaan kembali Selat Hormuz diperkirakan akan meredakan krisis energi global yang dipicu oleh bombardir AS dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari lalu, yang mendorong Teheran menutup jalur perairan strategis tersebut. Harga minyak, gas, dan produk terkait melonjak tajam, dan para ahli memperkirakan butuh waktu berminggu-minggu hingga berbulan-bulan bagi pengiriman dan harga untuk pulih setelah selat dibuka kembali. Blokade AS terhadap pelabuhan Iran telah berlangsung lebih dari sebulan, dan Trump menegaskan blokade akan tetap berlaku hingga kesepakatan tercapai, disertifikasi, dan ditandatangani.
Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio, dalam kunjungannya ke India, mengakui bahwa kemajuan signifikan β meskipun belum final β telah dicapai dalam negosiasi. Rubio merinci bahwa tahap pertama adalah pembukaan penuh Selat Hormuz, disusul dengan negosiasi serius Iran mengenai tiga topik: janji tidak memiliki senjata nuklir, pembatasan jangka panjang terhadap kemampuan pengayaan, serta nasib uranium yang telah diperkaya tinggi. Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmail Baghaei menyatakan bahwa perbedaan posisi antara Iran dan AS semakin menyempit, namun Teheran tetap waspada setelah dua kali diserang selama negosiasi nuklir tahun lalu.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, dalam unggahan media sosial, menyatakan bahwa ia dan Trump sepakat bahwa kesepakatan akhir dengan Iran harus menghilangkan bahaya nuklir. Trump juga menegaskan kembali hak Israel untuk membela diri di semua lini, termasuk Lebanon. Kesepakatan yang dirancang juga mencakup penghentian perang antara Israel dan kelompok Hizbullah yang didukung Iran di Lebanon, yang dimulai dua hari setelah perang Iran pecah. Gencatan senjata yang rapuh telah berlaku di Lebanon sejak 17 April, namun pertempuran masih berlanjut terutama di wilayah selatan, dengan lebih dari 3.000 orang tewas menurut Kementerian Kesehatan Lebanon.
Ke depan, keberhasilan kesepakatan ini akan sangat bergantung pada komitmen Iran untuk benar-benar menyerahkan uraniumnya dan kesediaan AS untuk mencabut sanksi secara bertahap. Meskipun optimisme mulai muncul, sejarah menunjukkan bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang dan penuh hambatan.



