Blackout 7 Jam di Sumatra: Warga Padang Bertahan Tanpa Listrik, Air, dan BBM
Baca dalam 60 detik
- Pemadaman listrik total selama lebih dari tujuh jam melumpuhkan aktivitas warga Kota Padang, termasuk akses air bersih dan bahan bakar.
- Gangguan pada saluran transmisi Sumatra bagian Utara dan Tengah menjadi penyebab blackout, tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada masyarakat.
- Kejadian ini menyoroti kerentanan infrastruktur kelistrikan dan dampak domino terhadap ekonomi lokal, terutama UMKM dan sektor jasa.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6624985/original/064279600_1779456351-WhatsApp_Image_2026-05-22_at_20.03.08.jpeg)
Warga Kota Padang, Sumatra Barat, mengalami krisis selama lebih dari tujuh jam akibat pemadaman listrik total pada Sabtu (23/5/2026) malam. Insiden yang dimulai sekitar pukul 18.18 WIB ini membuat aktivitas sehari-hari lumpuh total, mulai dari pasokan air bersih hingga distribusi bahan bakar minyak (BBM). Salah satu korban, Ragil (24), mahasiswa Universitas Negeri Padang, menceritakan kepanikan yang melanda lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut Ragil, sebelum listrik padam, lampu di kamar dan depan rumahnya sempat berkedip-kedip, namun tidak ada peringatan resmi dari PLN, ketua RT, maupun media sosial. Ia mengaku baru mendapat informasi penyebab pemadaman sekitar satu jam kemudian, yaitu gangguan pada saluran transmisi di Muara Bungo Rumbai yang menghubungkan jaringan listrik Sumatra bagian Utara dan Tengah. Ketidakjelasan durasi pemadaman memperparah kebingungan warga.
Dampak paling terasa adalah pada kebutuhan dasar. Pompa air yang bergantung pada listrik membuat warga kesulitan mandi dan memenuhi kebutuhan air bersih. Ragil menyebut dirinya harus berputar dari ujung kota ke ujung kota untuk mencari bensin setelah motornya kehabisan bahan bakar. βPom bensin dekat kontrakan mati juga. Saya sampai keliling cari bensin,β ujarnya. Selain itu, jaringan internet yang ikut padam memutus akses informasi, membuat warga hanya bisa mengandalkan kabar dari mulut ke mulut.
βRata-rata kami di sini pasrah, bingung, jalan-jalan keluar aja cari setitik listrik yang nyala,β kata Ragil.
Dari sisi ekonomi, Ragil menilai blackout ini menghantam sektor UMKM, restoran, dan usaha fotokopi yang sangat bergantung pada pasokan listrik. Aktivitas jual beli terhenti, menyebabkan kerugian bagi pelaku usaha kecil. Kejadian ini juga mengungkap kelemahan sistem komunikasi darurat: tidak ada pemberitahuan awal dan informasi resmi yang cepat dari pihak berwenang.
Insiden blackout di Sumatra ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan infrastruktur kelistrikan, terutama di wilayah yang bergantung pada satu jalur transmisi utama. Ke depan, perlu ada evaluasi menyeluruh terhadap sistem distribusi listrik dan prosedur penanganan darurat agar dampak sosial-ekonomi dapat diminimalkan. Bagi investor dan pelaku bisnis, peristiwa ini menekankan risiko operasional yang melekat pada sektor energi dan perlunya diversifikasi sumber daya.



