PLN Buka Tabir Kronologi Pemadaman Listrik Massal di Sumatera: Cuaca Ekstrem Picu Gangguan Transmisi
Baca dalam 60 detik
- Gangguan pada saluran transmisi 275 kV Muara Bungo–Sungai Rumbai akibat cuaca buruk menjadi pemicu padamnya listrik di sejumlah provinsi Sumatera.
- Lebih dari 8,3 juta pelanggan telah pulih, namun pemulihan penuh masih berlangsung karena pembangkit termal membutuhkan waktu 15–20 jam untuk beroperasi normal.
- Kejadian ini menyoroti kerentanan sistem kelistrikan Sumatera terhadap faktor cuaca dan perlunya investasi pada infrastruktur transmisi yang lebih tangguh.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/6632137/original/098287500_1779466043-1001282319.jpg)
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) mengonfirmasi bahwa pemadaman listrik massal yang melanda sejumlah provinsi di Sumatera pada Jumat (22/5) malam dipicu oleh gangguan pada saluran transmisi tegangan tinggi 275 kV antara Muara Bungo dan Sungai Rumbai. Insiden ini menyebabkan penurunan frekuensi sistem secara drastis dan memicu efek domino yang melumpuhkan pasokan listrik ke jutaan pelanggan.
Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, dalam keterangan resminya pada Sabtu (23/5) mengungkapkan bahwa gangguan bermula sekitar pukul 18.44 WIB. Indikasi awal menunjukkan cuaca buruk menjadi pemicu utama terganggunya ruas transmisi kritis tersebut. Akibatnya, sebagian besar sistem kelistrikan Sumatera mengalami ketidakstabilan yang berujung pada pemadaman luas.
Hingga Sabtu pagi, PLN melaporkan bahwa 8.351.670 pelanggan atau sekitar 98% dari total pelanggan terdampak telah kembali menikmati aliran listrik. Dari sisi pasokan, sebanyak 3.192 megawatt (MW) dari total 5.334 MW yang sempat padam telah berhasil dipulihkan. Sebanyak 157 dari 176 gardu induk juga telah beroperasi kembali. Meski demikian, Darmawan menekankan bahwa proses pemulihan masih terus berjalan secara bertahap dengan mengutamakan keamanan sistem.
Menurut Darmawan, jaringan transmisi yang terganggu berhasil dipulihkan dalam waktu sekitar dua jam. Setelah itu, fokus PLN beralih pada pengoperasian kembali pembangkit listrik yang ikut padam. Proses sinkronisasi pembangkit ke sistem transmisi dilakukan secara sistematis. Pembangkit berbasis hidro dan gas menjadi andalan awal karena mampu merespons cepat dan membantu menstabilkan sistem dalam waktu singkat.
Namun, pembangkit termal seperti PLTU membutuhkan waktu lebih lama untuk kembali ke kapasitas penuh. Darmawan menjelaskan bahwa proses start-up hingga operasi penuh PLTU memakan waktu sekitar 15 hingga 20 jam. Hal ini menjadi faktor utama mengapa pemulihan total pasokan listrik belum sepenuhnya tercapai dalam 24 jam pertama.
PLN mengerahkan ratusan personel teknis yang bekerja 24 jam di wilayah terdampak, mulai dari Jambi, Sumatera Barat, Riau, Sumatera Utara, hingga Aceh. Koordinasi dengan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), pemerintah daerah, serta aparat keamanan terus dilakukan untuk mempercepat proses pemulihan dan memastikan keandalan sistem ke depan.
“Kami mohon maaf sebesar-besarnya atas ketidaknyamanan yang terjadi. Kami terus siaga agar sistem kelistrikan bisa segera pulih dan masyarakat dapat kembali menikmati listrik secepat mungkin,” ujar Darmawan dalam pernyataan resminya.
Insiden ini menjadi pengingat akan kerentanan infrastruktur kelistrikan Sumatera yang masih bergantung pada beberapa jalur transmisi utama. Cuaca ekstrem yang kian sering terjadi akibat perubahan iklim menuntut PLN untuk mempercepat program penguatan jaringan, termasuk pembangunan jalur redundan dan sistem proteksi yang lebih adaptif. Ke depan, investasi pada teknologi grid modern dan diversifikasi sumber energi diharapkan dapat meminimalkan risiko pemadaman serupa.



